Cerpen:
Wiwi Yunianto
Perasaan
malu dengan tetangga bercampur rasa kesal yang tiada tara, Anto tanpa pikir
panjang langsung menerobos kerumunan tetangga. Anto berlari dengan sebelumnya
melemparkan begitu saja kunci motornya. Ibunya berteriak-teriak memanggilnya,
tapi Anto tak sedikit pun perduli. Ia merasa sangat kesal, ibunya sering kali
memarahinya. Sepertinya apa pun yang ia lakukan pasti salah dan harus diomeli.
Ia berlari dan terus berlari menelusuri gang sempit dari rumahnya entah menuju
ke mana. Anto berhenti berlari di depan rumah di pinggir jalan yang tak terlalu
lebar, cukuplah untuk berpapasan antara mobil dengan sepeda motor. Anto
berhenti karena melihat satu kejadian yang tragis.
Seorang
ibu menjerit seperti mempertahankan sesuatu dari seorang pengendara sepeda
motor. Kekesalannya di rumah sebelumnya seperti ada saluran untuk meluapkannya.
Anto berlari mengahampiri pengendara sepeda motor yang memang dari arah yang
berlawanan dengannya. Anto melompat dengan gerakan menendang. Kakinya yang
terbungkus sepatu jenis “jungle” atau sepatu yang biasa digunakan oleh
penjelajah hutan menghantam dada pengendara sepeda motor itu. Karuan saja
pengendara sepeda motor itu terjatuh ke samping kiri, sepentara sepeda motornya
sempat melaju dan akhirnya pun jatuh rebah.
Melihat
korbannya jatuh , Anto langsung menghujaninya dengan bogem mentah berkali-kali.
Sementara itu sang ibu menjerit-jerit meminta Anto untuk menghentikannya. Anto
baru berhenti ketika sang ibu telah memeluk lelaki muda pengendara sepeda motor
itu, yang tak lain adalah anaknya.
Ibu tadi mencoba
mempertahankan uang belanja dagangannya dari anak lelakinya yang selalu
merongrongnya untuk berfoya-foya. Anto mengira adegan tadi adalah aksi
penjambretan.
Anto terdiam sesaat, tersadar
betapa hati seorang ibu sangat menyayangi anaknya, bagaimana pun dia. Anto jadi merasa telah begitu bersalah pada ibunya di rumah.
Selesai

Kasih sayang ibu pada anak sangat tak terbatas..
BalasHapus