INGIN MASUK PESANTREN
Penulis: Wiwi Yunianto
Mungkin benar
jika ada pendapat yang mengatakan bahwa cucu lebih disayang dibanding anak,
paling tidak hal ini diperlihatkan oleh Mbah Sastro yang membela keinginan
Dirman , cucunya. Dirman ingin masuk pesantren, sementara sang ayah, Suryo tak
mengizinkan. Suryo beralasan usia Dirman barulah tujuh tahun, anak pertama pula, adiknya masih bayi,
baru berusia 3 bulan. Artinya, begitu lama Suryo menimang-nimang Dirman barulah
anak keduanya lahir. Tapi kemudian Suryo merasa harus dipisahkan dengan buah
hatinya itu.
“Mestinya
kamu bangga, bahwa putra pertamamu meskipun masih sangat muda sudah memiliki
keinginan yang besar dalam menuntut ilmu. Paling tidak jejakmu sudah
terwariskan. Dulu kamu juga begitukan? “ , Mbah Sastro mulai tampak rasa kebanggaan
terhadap cucunya.
“Tapi,
kan saya meninggalkan rumah, pergi ke negeri orang setelah lulus SMA”, Suryo
mencoba membela diri.
“Itulah,
cucuku itu lebih berani dibandingkan bapaknya,” lagi-lagi mbah Sastro terdengar
membanggakan cucunya lebih dari anaknya.
“Maaf
Pak, saya belum dapat mengizinkan Dirman masuk pesantren pada usia yang sangat
muda. Kalau mau belajar agama ‘kan bisa di TPA, pengajian atau madrasah. Nah
nanti kalau sudah lulus SD barulah saya dapat mengizinkannya,” Suryo mencoba
mempertahankan alasannya.
“
Sepertinya kamu itu tahu segalanya bahkan yang belum terjadi “. Mbah Sastro
agak lirih berucap.
Dari balik dinding Dirman
menyimak pembicaraan antara ayah dan mbah kakungnya.
Selesai .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar