Halaman

16 Januari 2012

Kasih Ibu Sepanjang Masa



Cerpen:


Wiwi Yunianto
                Perasaan malu dengan tetangga bercampur rasa kesal yang tiada tara, Anto tanpa pikir panjang langsung menerobos kerumunan tetangga. Anto berlari dengan sebelumnya melemparkan begitu saja kunci motornya. Ibunya berteriak-teriak memanggilnya, tapi Anto tak sedikit pun perduli. Ia merasa sangat kesal, ibunya sering kali memarahinya. Sepertinya apa pun yang ia lakukan pasti salah dan harus diomeli. Ia berlari dan terus berlari menelusuri gang sempit dari rumahnya entah menuju ke mana. Anto berhenti berlari di depan rumah di pinggir jalan yang tak terlalu lebar, cukuplah untuk berpapasan antara mobil dengan sepeda motor. Anto berhenti karena melihat satu kejadian yang tragis.
                Seorang ibu menjerit seperti mempertahankan sesuatu dari seorang pengendara sepeda motor. Kekesalannya di rumah sebelumnya seperti ada saluran untuk meluapkannya. Anto berlari mengahampiri pengendara sepeda motor yang memang dari arah yang berlawanan dengannya. Anto melompat dengan gerakan menendang. Kakinya yang terbungkus sepatu jenis “jungle” atau sepatu yang biasa digunakan oleh penjelajah hutan menghantam dada pengendara sepeda motor itu. Karuan saja pengendara sepeda motor itu terjatuh ke samping kiri, sepentara sepeda motornya sempat melaju dan akhirnya pun jatuh rebah.
Melihat korbannya jatuh , Anto langsung menghujaninya dengan bogem mentah berkali-kali. Sementara itu sang ibu menjerit-jerit meminta Anto untuk menghentikannya. Anto baru berhenti ketika sang ibu telah memeluk lelaki muda pengendara sepeda motor itu, yang tak lain adalah anaknya.
Ibu tadi mencoba mempertahankan uang belanja dagangannya dari anak lelakinya yang selalu merongrongnya untuk berfoya-foya. Anto mengira adegan tadi adalah aksi penjambretan.
Anto terdiam sesaat, tersadar betapa hati seorang ibu sangat menyayangi anaknya, bagaimana pun dia. Anto jadi merasa telah begitu bersalah pada ibunya di rumah. 
Selesai

1 komentar: