Halaman

31 Desember 2024

Berteman Saja


 

Roman hanya duduk diam. Lidahnya terasa berat, seperti ada beban yang menghimpit setiap kata yang ingin ia ucapkan. Hatinya nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum menusuk. Sementara itu, Sabrina terus berbicara pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati. Ia khawatir, kata-katanya melukai perasaan lelaki tampan yang kini duduk di sampingnya. Wajah Sabrina tetap dihiasi senyum, senyum yang terlalu cantik di mata Roman. Namun senyum itu justru memperburuk perasaan Roman, yang terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan.

“Kak Roman, sedari awal aku sudah menduga,” ujar Sabrina lembut. “Kalau Kakak sayang sama aku. Tapi aku takut nggak bisa jadi seperti yang Kakak harapkan. Lebih baik kita berteman saja, ya? Kita tetap bisa bersama-sama ke mana pun kita mau. Aku nggak akan marah kok, Kak. Aku tetap sayang sama Kak Roman, meskipun suatu saat Kakak dapat gadis lain yang seperti Kakak harapkan.”

Kata-kata itu menghantam Roman seperti gelombang yang datang tanpa peringatan. Di dalam hatinya, ia ingin sekali berkata, “Kamulah gadis yang aku harapkan. Aku yakin aku bisa membahagiakan kamu. Aku juga yakin kalau kamu pasti bisa membahagiakan aku.” Namun, kalimat itu tak pernah keluar dari mulutnya. Ia hanya membisu, diam dalam hening. Ingin sekali ia bangkit, pamit, meninggalkan ruangan itu, bahkan mungkin meninggalkan Sabrina untuk selamanya. Tapi di sisi lain hatinya, Roman masih berharap. Berharap Sabrina berubah pikiran, berharap gadis itu mau menjadi lebih dari sekadar teman.

Di atas meja, segelas teh manis yang hangat tetap berdiri kokoh. Biasanya, teh itu takkan bertahan lama. Roman akan menyeruputnya sedikit demi sedikit hingga tandas. Tapi kali ini, gelas kaca itu tetap utuh, tak tersentuh. Di sampingnya, sepiring pisang goreng masih utuh pula, tidak dilirik, apalagi dimakan. Padahal, di kantin sekolah, makanan seperti itu akan lenyap dalam sekejap, berpindah ke tangan-tangan trampil siswa SMA Nusa Bhakti. Bahkan soal membayar, Bu Kantin biasanya hanya pasrah sambil berkata, “Gusti Allah ndak sare. Rezeki ndak bakal tertukar.”

“Kak Roman, kok diam? Biasanya banyak omong,” tanya Sabrina, sedikit bingung. Roman tak menjawab. Tatapannya kosong, seperti menatap sesuatu yang tak terlihat.

“Sabrina, aku pamit pulang, ya?” ucap Roman tiba-tiba.

“Loh, kok?” Sabrina tampak kaget. Roman yang biasanya begitu antusias berbicara, kini seperti kehilangan semangat. Dalam hati, Sabrina bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Roman.

Setelah berpamitan dengan ibu Sabrina, Roman pun melangkah pergi. Langkahnya berat, namun ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Kenapa Sabrina menolaknya? Kenapa hanya ingin berteman? Kata-kata Sabrina terus terngiang di telinganya, menyiksa hatinya yang sudah terlanjur berharap.

Tanpa sadar, Roman telah berjalan begitu jauh. Ia lupa seharusnya ia naik bus atau angkot untuk pulang dari rumah Sabrina. Ia benar-benar lupa. Langkah-langkahnya membawanya tanpa arah, hingga ia sadar bahwa kini ia telah berada di gang menuju rumahnya. Roman berhenti sejenak, memandang jalan sempit yang menuju ke tempat tinggalnya. Dalam hatinya, ia tahu, hari ini akan menjadi salah satu hari yang tak terlupakan. Hari di mana ia harus menerima kenyataan pahit bahwa perasaan tulusnya hanya akan menjadi sebuah kenangan. Sebuah harapan yang tak pernah sampai. TAMAT. Wy

 

29 Desember 2024

Suatu Siang di Perempatan Jalan Raya


 

Matahari bersinar terik, memantulkan panas yang terasa menusuk kulit. Di perempatan jalan raya yang ramai, suara klakson dan deru mesin kendaraan saling bersahutan. Tiba-tiba, suara benturan keras memecah keramaian.

Brak!

Sandi, seorang pria muda dengan seragam kemeja putih dan celana hitam, refleks menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat seorang lelaki bertubuh tinggi besar tergeletak di aspal. Sepeda motor korban terjatuh tak jauh dari tubuhnya. Mesinnya masih menyala, dan roda depan yang penyok berputar perlahan.

Tanpa berpikir panjang, Sandi berlari menghampiri lelaki itu. Ternyata, dari berbagai arah, beberapa orang lain juga mendekat. "Ayo, angkat dia ke trotoar!" seru salah seorang pria tua berbaju batik. Sandi, bersama beberapa orang lainnya, berusaha mengangkat tubuh besar korban. Dengan tenaga gabungan, mereka berhasil memindahkannya ke tepi jalan.

Sandi melihat wajah lelaki itu lebih dekat. Mulutnya dipenuhi darah segar, dan matanya menatap kosong, seolah kehilangan fokus. Erangan pelan keluar dari bibirnya, membuat Sandi merasa ngeri sekaligus prihatin.

Di sisi lain, beberapa orang sibuk mematikan mesin motor korban dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Tak lama kemudian, seorang petugas polisi lalu lintas datang. Dia tampak menenangkan situasi, memberi isyarat kepada para pengendara agar melambat dan tidak mendekati lokasi kecelakaan.

Merasa tugas daruratnya selesai, Sandi melirik jam tangannya. "Aduh, hampir terlambat!" pikirnya. Dia segera menyebrang jalan menuju halte, tempat dia biasa menunggu bus yang akan membawanya ke restoran cepat saji tempatnya bekerja.

Angin siang menerpa wajahnya saat ia berdiri di halte, berusaha mengatur napas yang masih terengah. Dalam hati, ia merenung. Kecelakaan tadi mengingatkannya akan pentingnya berhati-hati di jalan. Namun, ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan lebih jauh. Bus yang ditunggunya akhirnya datang, dan Sandi melangkah naik, bersiap menghadapi kesibukan sift siangnya.

Namun, dalam perjalanan menuju tempat kerja, bayangan lelaki yang tergeletak dengan darah di mulutnya terus terlintas di pikirannya. Entah bagaimana, ia merasa sedikit lega telah membantu meski hanya sebentar. Bagi Sandi, itu adalah pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama, sekecil apa pun, bisa berarti besar di saat-saat genting. Selesai Wy

 

Gowes Seru ke Danau Citra Garden Delapan



Jakarta, Ahad, 29 Desember 2024  Kegiatan gowes pagi ini menjadi pengalaman seru bagi delapan gowesser: Aldi, Musthafa, Deny Zakaria, Arya/Acep, Popo Yunianto, Wiwi Yunanto, Anton, dan Defan. Mereka memulai perjalanan dari Gang Wegiok pada pukul 06.30, mengayuh sepeda dengan penuh semangat menuju Danau Citra Garden Delapan.

  
Perjalanan dimulai dengan menyusuri Jalan Letjen S. Parman, melintasi Jalan Daan Mogot, Pasar Cengkareng, dan Jalan Kamal Raya. Setelah itu, mereka berbelok ke Agung Sedayu. Di sini, dua peserta, yaitu wiwi Yunianto dan musthafa sempat terpisah ke Jalan Kamal tetapi  setelah beberapa kali mengadakan kontak via hp dan beberapa kali bertanya kepada orang-orang setempat akhirnya berhasil bertemu kembali di kawasan perumahan Citra Enam. Dengan formasi lengkap, rombongan melanjutkan perjalanan hingga tiba di Danau Citra Garden Delapan. Jarak tempuh dari titik ke berangkatan hingga titik tujuan sekitar 18,9 KM dengan waktu tempuh selama 2 jam 24 menit 13 detik.

Setelah menikmati suasana danau, rombongan mampir ke rumah teman Aldi di Jalan Nangka, Cengkareng. Setelah beristirahat sejenak termasuk makan siang dan sholat zhuhur berjamaah di masjid, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan rute berbeda.

Rute pulang kali ini melewati Jalan Utama Raya yang tembus ke Jalan Daan Mogot. Dari perempatan Cengkareng, rombongan berbelok ke kiri, melintasi Jalan Puri, lalu menyusuri Jalan Arjuna Utara yang berada di samping Tol Jakarta-Merak.

Saat tiba di bawah kolong Jalan Tanjung Duren Raya , rombongan memutar arah ke jalan layang menuju Kemanggisan. Mereka berbelok ke Jalan H. Djunaedi, menembus kawasan Kemanggisan Pulo hingga ke Kompleks Hankam. Setelah melintasi Jembatan Hankam, rombongan berbelok kiri ke Jalan Arteri Kali Grogol.

Sesampainya di Gang Masjid Nurul Jannah, peserta satu persatu goweser mulai berpisah menuju rumah masing-masing. Rute goweser pertama yang berpisah adalah  Popo Yunianto langsung ke rumahnya, goweser berikut Defan, kemudian Arya/Acept berikutnya Aldi dan Deny Zakaria serta terakhir  penulis berita, yang juga salah satu peserta, menjadi penutup perjalanan dengan tiba di rumahnya di RT 003 RW 016. Sementara peserta terpisah adalah Musthafa, dan Anton. Mulai terpisah di jalan Arjuna Utara sebelum kolong jembatan layang Tanjung Duren. Saat itu ustadz Deni mampir ke bengkel untuk isi angin ban sepedanya.

Perjalanan gowes ini menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan bagi para peserta. Semangat dan kekompakan mereka menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menikmati olahraga sambil menjelajahi kota. Sampai jumpa di perjalanan gowes berikutnya ! Wy  (Tamat)


Beristirahat sejenak di perempatan Cengkareng

Lokasi ini sebagai titik pertemuan setelah sempat terpisah


Akhirnya para goweser tiba di tujuan Danau Citra Delapan

Menikmati suasana danau sekaligus ubi bakar Cilebut

Bukti jarak tempuh dan waktu tempuh para goweser


 Musthafa beserta goweser lain sholat zhuhur di masjid ini.














 

Top of Form

 

Bottom of Form

 


 

27 Desember 2024

Tak Kan Kubiarkan Air Mata Menetes


Hari ini, Joko berdiri di depan gedung pertemuan, tepat seperti yang tertulis di kartu undangan. Hatinya berat, tetapi ia tetap melangkahkan kaki ke sana. Hari ini adalah pernikahan Gadis, teman yang dikenalnya sejak kecil, tepatnya sejak mereka masuk sekolah dasar. Joko mengenang masa-masa itu. Entah apa yang dirasakannya saat itu, mungkin bukan cinta seperti yang dirasakan orang dewasa. Namun, setiap kali melihat Gadis, hatinya selalu berbunga-bunga. Kebahagiaan sederhana ketika mereka berbicara atau tertawa bersama membuat hidupnya penuh warna.

Saat sekolah dasar, Joko selalu berusaha berada di dekat Gadis. Apapun kegiatan sekolah, ia selalu mencari cara untuk bisa bersama. Namun, di luar sekolah, ia tak pernah punya keberanian untuk datang ke rumah Gadis. Mungkin jarak yang membuatnya ragu, atau mungkin rasa malu yang tak terjelaskan. Enam tahun berlalu dengan kebahagiaan kecil itu, tetapi semuanya berubah ketika mereka memilih SMP yang berbeda. Perpisahan itu menyakitkan, lebih dari yang pernah ia bayangkan.

Tiga tahun berlalu, dan kehidupan berjalan. Sesekali mereka bertemu, terutama saat reuni sekolah. Dalam kesempatan itu, Joko melihat Gadis yang telah tumbuh menjadi seorang remaja yang mempesona, sementara ia merasa dirinya tetap sama, hanya sedikit lebih tinggi. Tanpa disangka, saat SMA mereka bertemu kembali, dan kali ini di sekolah yang sama. Meski berbeda kelas, mereka sering bertemu, terutama di kantin. Duduk bersama, menikmati makanan di meja yang sama, meskipun selera mereka berbeda, menjadi momen yang selalu Joko nantikan.

Perpustakaan sekolah juga menjadi tempat istimewa mereka. Kali ini, mereka bahkan membuat janji. Sepulang sekolah, mereka sering pergi bersama, meski hanya untuk meminjam atau mengembalikan buku. Masa-masa remaja itu membuat Joko semakin yakin bahwa rasa sayang yang ia miliki untuk Gadis bukanlah hal biasa. Rasa itu telah tumbuh menjadi cinta.

Suatu hari, Joko memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Saat itu, ia mengantar Gadis pulang dari sekolah. Dengan hati-hati, ia mengungkapkan apa yang selama ini terpendam di hatinya. Namun, jawaban Gadis tidak seperti yang ia harapkan. Gadis menolak dengan alasan bahwa dirinya belum siap untuk terikat. Ia ingin fokus mengejar cita-citanya. Hati Joko hancur, tetapi cintanya tetap besar. Ia yakin, suatu hari nanti, Gadis akan membuka hatinya.

Tiga tahun kembali berlalu. Gadis melanjutkan kuliah di Semarang, sementara Joko masuk ke perguruan tinggi kedinasan di Jakarta. Perbedaan kota dan jurusan membuat mereka semakin jarang bertemu. Sistem perkuliahan Joko yang ketat, termasuk jadwal libur semester yang berbeda, membuat komunikasi di antara mereka semakin renggang.

Setelah beberapa tahun, Joko akhirnya lulus dan mendapatkan penempatan di sebuah lembaga pemerintah di Semarang. Ia berharap dapat bertemu Gadis lagi. Namun, harapan itu tidak semudah yang ia bayangkan. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, ia melihat Gadis di sebuah jalan. Gadis berjalan bersama seorang lelaki, yang kemudian ia ketahui bernama Herman. Dengan senyum yang tak kalah indah dari dulu, Gadis mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan Herman. Bahkan, ia menyerahkan undangan kepada Joko. Hati Joko hancur saat itu juga.

Hari ini, di depan gedung pertemuan, Joko memandangi pintu masuk yang terbuka. Ia tahu, di dalam sana, Gadis sedang bersanding dengan lelaki yang ia pilih. Hatinya remuk, tetapi ia memutuskan satu hal: ia tidak akan membiarkan air matanya menetes. Tidak di sini, tidak saat ini. Meski hatinya hancur berkeping-keping, ia berjanji untuk tetap tegar.

Joko akhirnya memutar langkah. Ia memilih untuk tidak masuk ke dalam gedung itu. Pernikahan Gadis adalah kebahagiaan yang tak ingin ia ganggu dengan air mata dan kesedihan. Ia akan menyimpan semua rasa itu untuk dirinya sendiri. Karena cinta, kadang bukan tentang memiliki, tetapi tentang membiarkan orang yang kita cintai bahagia, meski tanpa kita.

Hari itu, Joko berjalan menjauh, meninggalkan gedung pertemuan, dengan langkah perlahan dan hati yang masih mencintai Gadis. Namun, ia tahu, hidup harus terus berjalan. Ia berbisik dalam hati, "Tak kan kubiarkan air mata menetes." ( tamat)

 


 

8 Desember 2024

Meriahnya Pentas Baca dan Lomba Mewarnai Unit Ternate 2

Tangerang, 7 Desember 2024 – Pentas baca dan lomba mewarnai biMBA-AlUEO Unit Ternate 2 sukses diselenggarakan pada Sabtu, 7 Desember 2024, bertempat di Aula Remaja Kuring Resto, Jalan Jenderal Gatot Subroto Km 4,5 RT.001/RW.001, Sangiang Jaya, Priuk, Kota Tangerang, Banten. Acara yang penuh semangat ini dihadiri oleh 165 anak-anak biMBA beserta para pendamping.

Kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WIB dengan pembukaan oleh dua MC, Ms. Maureen Setiani dan Ms. Fitia Nurjanah, yang juga merupakan motivator biMBA. Setelah pembacaan doa, suasana semakin semarak dengan tepuk semangat dan yel-yel khas biMBA.

Dalam sambutannya, Kepala Unit biMBA-AlUEO Ternate 2, Ibu Robbiyatul Ade Wiyah, menekankan pentingnya menanamkan minat baca pada anak sejak dini agar mereka mencintai proses belajar sepanjang hayat. Sementara itu, Wiwi Yunianto, perwakilan dari kantor pusat biMBA-AlUEO, menyampaikan manfaat dari kegiatan ini, yaitu saat pentas baca  untuk mendorong anak-anak memiliki minat baca dan belajar sepanjang hayat, serta memahami aturan dari hal-hal sederhana saat lomba mewarnai gambar.

Acara juga diwarnai dengan testimoni , yaitu  Ibu Nanda Fidyana Pangestu , orang tua murid dari : Nadira Kanaya Ariestiyanto  dan Aghnia Khalisa Ariestiyanto, yang mengungkapkan kemajuan signifikan kedua anaknya setelah mengikuti bimbingan di biMBA-AlUEO. Menurutnya, kedua anak yang sebelumnya belum mengenal huruf dan angka kini sudah mampu membaca kata-kata sederhana, berhitung, dan menulis.

Setelah itu, lomba mewarnai dimulai sekitar pukul 08.20 WIB, diawali dengan nyanyian "Cinta Ananda" oleh kepala unit dan para motivator. Di sela-sela acara, panitia menyisipkan door prize untuk menambah semangat peserta.

Pentas baca level 1, 2, 3, dan 4 dilaksanakan secara bergantian dengan berbagai hiburan menarik, seperti gerak dan tari lagu "La biMBA" dan "Jangan Marah Dong," serta penampilan dari Inglish biMBA. Ada pula sosialisasi biMBA intervio oleh Ibu Titin Sumarni.

Menjelang akhir acara, anak-anak dihibur dengan penampilan badut yang disambut antusias, diikuti senam "Gemu Famire" oleh kepala unit dan motivator. Door prize dan pengumuman pemenang lomba mewarnai menjadi puncak kemeriahan sebelum acara ditutup.

Sebagai apresiasi, semua peserta mendapat trofi dan goody bag. Acara yang sarat edukasi dan hiburan ini berakhir pada pukul 12.00 WIB, meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir.

Selesai.

 

Bottom of Form

 


5 Desember 2024

Mimpi Rumah Impian

 

Di sebuah desa kecil di pinggiran kota, hiduplah seorang anak bernama Rafi. Ia baru berusia 10 tahun, tetapi hidup telah mengajarinya tentang kerasnya perjuangan. Rafi tinggal bersama ibunya, Bu Lina, di sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari bilik bambu dan atap rumbia. Jika hujan turun, air menetes dari atap, membuat lantai tanah menjadi becek dan dingin. Namun, Rafi tak pernah kehilangan senyumnya.

Setiap pagi, ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolah dengan sepatu yang mulai usang. Meski demikian, semangat belajarnya tak pernah surut. Ia bercita-cita menjadi seorang arsitek agar suatu hari bisa membangun rumah impian untuk ibunya.

Di sekolah, Rafi suka menggambar. Ia sering menggambar rumah-rumah yang ia impikan, dengan tembok yang kokoh, atap yang tidak bocor, dan sebuah taman kecil di depan rumah. Ia selalu berkata kepada teman-temannya, "Suatu hari nanti, aku akan membangun rumah seperti ini untuk ibu."

Namun, mimpi itu tidak mudah diwujudkan. Setelah pulang sekolah, Rafi membantu ibunya menjual gorengan di pasar untuk menyambung hidup. Setiap sen yang mereka dapatkan terasa begitu berharga.

Suatu hari, ketika Rafi tengah menggambar rumah impiannya di halaman sekolah, seorang guru bernama Bu Ratna melihatnya. Terkesan dengan ketekunan dan bakat Rafi, Bu Ratna bertanya tentang mimpinya. Dengan mata berbinar, Rafi menceritakan keinginannya untuk membangun rumah yang layak bagi ibunya.

Bu Ratna merasa tersentuh. Ia pun mengajukan cerita Rafi ke sebuah organisasi sosial yang sering membantu anak-anak berbakat dari keluarga kurang mampu. Tak lama setelah itu, sebuah kabar baik datang. Organisasi tersebut bersedia memberikan beasiswa pendidikan untuk Rafi dan membantu memperbaiki rumahnya.

Hari itu, Rafi pulang ke rumah dengan membawa berita bahagia. Matanya berkaca-kaca saat ia berkata kepada ibunya, "Bu, suatu hari nanti, aku akan membangun rumah yang lebih besar dan lebih indah untuk kita. Tapi sekarang, kita akan punya rumah yang lebih baik."

Pekerjaan renovasi rumah dimulai, dan dalam beberapa minggu, rumah kecil mereka berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak. Meskipun sederhana, rumah itu kini memiliki dinding yang kuat, lantai yang tidak lagi berlumpur, dan atap yang tidak bocor.

Rafi semakin giat belajar. Ia tahu, perjalanan menuju mimpinya masih panjang. Namun, dengan hati yang penuh syukur, ia percaya bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar.

Mimpi Rafi tak hanya tentang memiliki rumah layak huni, tapi juga tentang memberi kebahagiaan bagi ibunya yang telah berjuang tanpa kenal lelah. Bagi Rafi, rumah impian itu bukan hanya bangunan, melainkan tempat di mana cinta, harapan, dan kebahagiaan selalu menyala.(Tamat) Wy

 

Pentingnya Minat Baca dan Belajar bagi Anak Usia Dini



Minat baca dan belajar pada anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan intelektual. Pada usia dini, anak berada dalam masa emas pertumbuhan otak, yang memungkinkan mereka menyerap informasi dan kebiasaan dengan sangat cepat. Oleh karena itu, menanamkan minat baca dan belajar sejak dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi perkembangan anak.

1. Mengembangkan Kemampuan Kognitif

Membaca dan belajar melatih otak anak untuk berpikir, memahami, dan memproses informasi. Kegiatan ini membantu anak mengembangkan kemampuan kognitif, seperti daya ingat, konsentrasi, dan logika. Anak yang terbiasa membaca dan belajar cenderung memiliki keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik serta kemampuan berpikir kritis.

2. Meningkatkan Keterampilan Berbahasa

Membaca buku atau mendengar cerita memperkaya kosakata dan struktur bahasa anak. Mereka belajar memahami cara menyusun kalimat, mengenal kata-kata baru, dan memperluas wawasan. Keterampilan berbahasa ini sangat penting dalam komunikasi dan pembelajaran di masa depan.

3. Menumbuhkan Kreativitas dan Imajinasi

Membaca cerita membuka pintu ke dunia baru yang penuh imajinasi. Anak-anak diajak untuk membayangkan karakter, tempat, dan situasi yang diceritakan dalam buku. Hal ini merangsang kreativitas mereka, yang merupakan modal penting untuk inovasi dan eksplorasi di kemudian hari.

4. Membentuk Kebiasaan Belajar Seumur Hidup

Anak yang memiliki minat baca dan belajar cenderung mengembangkan rasa ingin tahu yang tinggi. Kebiasaan ini membantu mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka tidak hanya belajar untuk memenuhi tuntutan akademik tetapi juga untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar mereka.

5. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Anak yang memiliki wawasan luas dari membaca dan belajar lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa nyaman mengungkapkan pendapat dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan.

Cara Menumbuhkan Minat Baca dan Belajar pada Anak Usia Dini

  1. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung
    Sediakan buku-buku bergambar, mainan edukatif, dan alat belajar di rumah. Pastikan lingkungan anak penuh dengan stimulasi positif yang mendorong mereka untuk eksplorasi.
  2. Jadilah Contoh
    Orang tua adalah role model bagi anak. Jika anak melihat orang tua gemar membaca atau belajar, mereka cenderung meniru kebiasaan tersebut.
  3. Luangkan Waktu untuk Membaca Bersama
    Luangkan waktu setiap hari untuk membaca buku bersama anak. Ceritakan isi buku dengan nada yang menarik agar anak terlibat dan menikmati prosesnya.
  4. Berikan Pujian dan Penghargaan
    Apresiasi usaha anak dalam membaca atau belajar. Hal ini akan memotivasi mereka untuk terus melakukannya.
  5. Gunakan Media yang Interaktif
    Selain buku cetak, manfaatkan buku elektronik, video edukasi, atau aplikasi belajar yang interaktif untuk membuat kegiatan belajar lebih menyenangkan.

Kesimpulan

Minat baca dan belajar pada anak usia dini merupakan investasi besar bagi masa depan mereka. Dengan membiasakan anak untuk membaca dan belajar, orang tua dan pendidik membantu mereka mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, dan emosional. Dukungan yang konsisten akan membentuk anak-anak menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan percaya diri, siap menghadapi tantangan di masa depan.

Halal bi Halal 33 Unit biMBA AlUEO Cikarang

 

Lebih dari serratus lima puluh tiga orang kepala unit dan motivator dari tiga puluh tiga  unit biMBA-AlUEO yang tersebar mulai dari Bekasi Timur, Cikarang hingga Jonggol. Ditambah dengan dua orang mitra beserta keluarga atau staf pemegang lisensi tiga puluh tiga unit tersebut dan sebelas orang undangan termasuk dari kantor pusat biMBA-AlUEO serta beberapa mitra dari unit lain. Pada Sabtu, 13 Mei 2023, mereka berkumpul di rumah makan Telaga Seafood, Cikarang untuk merayakan Halal bi Halal.

“ Setelah tiga  tahun masa pandemi, barulah tahun ini kami menyelenggarakan acara Halal bi Halal,” kata ketua panitia penyelenggara, ibu Putu Ineke kepala unit biMBA-AlUEO Fudholi dalam sambutannya. Lanjut bu Ineke,  “Sebenarnya tahun 2022 sudah dilakukan persiapan untuk agenda tahunan ini. Namun karena saat itu pandemi belum juga reda ditambah begitu banyak persyaratan yang harus dipenuhi akhirnya Halal bi Halal tahun itu urung diselenggarakan.”

“Jumlah unit biMBA-AlUEO (lisensi Bu Tanti dan Pak Toni) sebelum masa pandemi yaitu tahun 2019 ada dua puluh tujuh  unit. Sekarang ini setelah tiga tahun, jumlah unit ada tiga puluh tiga. Jadi selama tiga  tahun masa pandemi bertambah enam unit. Bisa dikatakan setiap tahun tambua dua unit,” begitu yang disampaikan Wiwi Yunianto, Humas biMBA-AlUEO kantor pusat dalam sambutannya. Dari kursi hadirin, kepala unit senior, ibu Tantry sedikit berteriak menyampaikan. “ Ada lima unit lagi yang akan dibuka. Sekarang sudah tahap persiapan”.

Jumlah unit yang dikelola oleh bu Tanti dan Pak Toni memang terus bertambah, bahkan pandemi bukan hal yang  menghambat pertambahan tersebut. Usaha atau kiat apa saja yang diterapkan oleh bu Tanti dan Pak Toni, sehingga pertambahan unit terus terjadi ? Pak Toni pun menyampaikan kiat-kiatnya.

Dalam sambutannya, Pak Toni memperlihatkan empat jari tangan ke depan; ibu jari, telunjuk, tengah dan kelingking. Empat Jari tersebut bermakna tiga plus satu . Tiga untuk motivator dan kepala unit dan satu tambahan khusus untuk kepala unit. Pak Toni menjelaskan setiap motivator dan ku harus  : 1. Disiplin, rajin dan tanggung jawab. 2. Komitmen jangka panjang. 3. Suka terhadap anak kecil. Dan tambahan satu khusus untuk kepala unit: Punya sifat kepemimpinan atau leader ship.

Acarta Halal bi Halal tahun ini memang terkesan sangat meriah dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi. Selain santap siang, beberapa sambutan,  tukar kado, doorprize, penampilan tarian Indonesia Wonderland. Sebuah tarian yang merupakan gabungan  dari beberapa tarian daerah di Indonesia. Tarian tersebut ditampilkan dari empat kelompok yang mewakili wilayah masing-masing, Seperti: Cikarang Utara, Cikarang Selatan, Agus Salim dan Jonggol. Penampilan tarian tersebut pun dinilai oleh dewan juri yang semua anggotanya dari kantor pusat. Karena ada penilaian tentu ada juaranya. Ada pun juara - juaranya sebagai berikut : Juara pertama: Cikarang Selatan, Juara kedua : Agus Salim, Juara ketiga: Jonggol dan Juara Harapan Pertama: Cikarang Utara. Selain penampilan tarian ada juga penampilan angklung yang dipersiapkan secara khusus dengan memanggil pelatih yang professional, yaitu Farid SN. Keseharian Pak Farid SN adalah seorang guru yang mengajar di SMA Negeri 1 Cikarang Utara.  Sementara anggota group angklung terdiri dari para kepala unit dan motivator yang berjumlah tak kurang dari tiga puluh orang. Kelompok angklung ini berlatih cukup singkap, yaitu cuma enam kali pertemuan saja. Penampilan kelompok angklung cukup memukau dan menarik perhatian para hadirin. Tak jarang terdengar uplous ( tepuk tangan) secara berulang-ulang.

Acara yang dibuka oleh 2 orang MC , yaitu ibu Yuyun dan ibu Dewi Safitri A. Keseharian mereka sebagai kepala unit. Masing -masing dari unit Puri Cikarang Hijau  dan Bumi Asih, pada pukul 13.00 kemudian berlanjut  dengan pembacaan kalam Illahi oleh ibu Ellah. Selesai pembacaan Kalam Illahi dilanjutkan dengan menyayikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh salah satu MC, ibu Safitri Dewi kemudian berlanjut dengan deretan acara yang telah dipaparkan di atas. rangkaian acara tersebut pun berakhir sekitar pukul 16.00 WIB dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh bu Ellah. Acara yang cukup meriah dan sangat berkesan di hati para yang hadir, tentu akan ditunggu penyelenggaraannya kembali di tahun depan. (Wy)

6 Agustus 2024

 Gowes ke Situ Gintung

Ahad, 4 Agustus 2024 yang berarti akhir pekan pertama di bulan Agustus 2024. Para goweser dari Komunitas Sepeda Sehat Jamim, pagi itu meluncur menelusuri jalan mulai dari jalan Palmerah Utara II, belok kanan mendagi sedikit di jalan Jend. Gatot Subroto atau flay over Pejompongan, belok kiri menurun melingkar berlanjut ke jalan arteri Tentara Pelajar hingga Pondok Indah. Tiap kali para goweser memang menghindari jalan yang menanjak. Kalau tutunan sih seneng , nggak perlu nggowes sepeda sudah meluncur dengan sendirinya. Istilah para goweser turunan senang , tanjakan seneb, .....Sesampai di simpak empat atau perempatan Pondok Indah sebagian besar atau lima orang dari anggota goweser menungu giliran lampu pengatur lalu-lintas ( Traffict light) sampai menyala hijau. Tetapi ada satu orang yang terlebih dahulu menerobos dan menunggu di seberang jalan atau tepatnya di depan Pondok Indah Mall sebelah timur. Ketika lima orang itu bergerak mengikuti lampu yang menyala hijau. Ternyata satu orang yang telah diseberang mengambil gambar / video shooting.

Para goweser bergembira menggowes "kuda gowesnya"

Selepas perempatan Pondok Indah, para goweser melanjutkan nggowes sepeda masing-masing menuju ke lokasi. Kira-kira baru seperempat jam atau lima belas menit perjalanan dari perempatan Pondok Indah para goweser istirahat di bawah stasiun LRT Lebak Bulus untuk minum dan menikmati kue pancong yang di bawa oleh salah satu anggota.

Istirahat di bawah stasiun LRT



Selesai istirahat kembali melanjutkan perjalanan dengan menunggangi "kuda gowes" masing-masing. Mungkin begitu semangat hingga tak terasa sudah  melewati Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah dan belok kekiri, baru menyadari dua goweser ternyata tertinggal. Empat orang goweser berhenti untuk menunggu, sambil ada yang mencoba menghubungi dua orang gowesr yang terpisah tersebut. 

                                         Bukan sedang mejeng, tapi terik cahaya matahari pagi menjelang siang itu                                                                 memang cukup menyilaukan.



Selalu selfi di mana  dan kapanpun termasuk sesaat sebelum nggowes kembali menuju lokasi



Dua orang yang terpisah menginformasikan mereka belok di sekitar rumah sakit Hermina. Memang sebenarnya komunitas goweser ini sebelumnya sudah akan berbelok ke kiri jauh  sebelum tiba dekat rumah sakit tersebut, Namun atas saran dari salah seorang goweser perjalanan dilanjutkan alais tak jadi berbelok.

Informasi kemudian diterima dari dua orang yang terpisah tersebut bahwa mereka sudah tiba di Situ Gintung dengan buku foto yang mereka share.

Musthapa membidikkan kameranya ke danau/Situ Gintung


Musthapa dan Arya berpose secara selfi di tepi danau


Empat goweser pun bergerak maju menuju Situ Gintung tanpa berbalik arah. Dalam perjalanan sesekali komunikasi terhubung dan berbalik arah setelah sampai di depan rumah Sakit Hermina. Setelah berbalik arah sesuai arahan dua teman yang sudah lebih dahulu tiba, para goweser yang empat orang tersebut belok kanan dan tak lama kemudian bertemu dengan salah satu dari dua orang yang terpisah tersebut. 

Jalan atau tepatnya gang menuju Situ Gintung yang sudah tak jauh itu dipenuhi oleh sepeda motor pengunjung lain yang terparkir. Tak butuh waktu lama para goweser pun tiba di lokasi tujuan.

Selintas pandang Situ Gintung


Langsung selfi sesaat tiba di lokasi Situ Gintung.

Ternyata ada pulau di tengah danau /Situ Gintung



Berpose bareng tiga bocil yang salah satunya menjadi fotografer dadakan.


Inilah hasil foto yang dibidik oleh bocil.


Sesuai menikmati pemandangan air yang terhampar tanpa ombak di atas danau, rombongan pun bergerak ke utara menuju pintu air. Lalu lalang orang-orang yang akan menikmati keindahan danau tak jarang dijumpai. Mungkin karena hari ini hari libur sehingga banyak orang yang keluar rumah dan datang ke lokasi wisata gratis ini. Kira-kira sepuluh atau lima belas menit, rombongan pun keluar dari bantaran/tepi danau. Ada jalan menurun cukup curam...Sebelah jalan curam itu terletak pintu air yang mangatur derasnya air yang menurun ke sungai atau kanal.

Inilah penampakan pintu air yang sudah mengalami perbaikan dan perubahan.

Sebelum menikmati dan berfoto-foto , rombongan melipir terlebih dahulu ke warung tenda. Melaksanakan sarapan yang tertunda. Ketupat sayur menu lengkap. 


Ketupat sayur santen pepaya muda, tahu dan telur semur, kerupuk serta ada bakwan goreng. Menu lengkap ternyata ada kurangnya juga, tak ada kancing lepis istilah untuk jengkol.


Suasana saat rombongan goweser menikmati sarapan yang tertunda, ketupat sayur.


Minum teh hangat yang menyegarkan dengan harga dua ribu rupiah.


Seusai menikmati sarapan, rombongan bergerak ke jembatan di depan pintu air untuk foto-foto. Kali ini fotografernya bukan bocil lagi, tetapi seorang "teteh" salah satu pengunjung juga.


Ini selfi

Foto ini yang hasil bidikan seorang teteh.


Sebelum  meninggalkan objek wisata untuk kembali ke "kampung halaman", para goweser bergeser lokasi foto ke tugu atau prasasti. Kali ini fotografer panggilan adalah bocil yang lain.




Setelah foto-foto di prasasti, para goweser pun bergerak balik ke kampung halaman. Saat berangkat yang penuh semangat dan demikian dengan saat kembali. sekujur tubuh rasanya "ngerentek". Tapi perasaan gembira membuat keinginan segera berada di rumah masing-masing menggerakan kaki menggowes pedal sepeda masing-masing. Menulusuri jalan datar terasa nikmat, begitu bertemu dengan jalan menanjak membuat satu persatu goweser turun dari sepeda masing-masing dan mendorongnya...

Kendala di jalan saat pulang ternyata bukan cuma jalan menanjak. Saat melintasi jalan Ciputat Raya setelah melewati sekolah polisi wanita, salah satu teman goweser terjatuh. Seperti ada batukecil atau kerikil yang sempat terlindas roda depan membuat sepeda tergelincir. Stang sepeda pun sempat menanduk dada teman itu. Untunglah mobil sedan yang berada tepat di belakang teman goweser tersebut sempat mengerem.

Pasca terjatuh sepeda sempat mendapat pertolongan, sementara pesepedanya malah nggak...

Setelah dirasa tak ada yang serius dampak dari tergelincir sebelumnya, maka rombongan pun melanjutkan perjalanan pulang. Gas...Gowes...... 

Namun rasa cape memang tak bisa disamarkan...Menjelang satu kilometer dari kampung halaman, rombongan pun berhenti untuk sekedar menghela napas. Lokasi istirahat seberang pom bensin atau SPBU Kemandoran, jalan Palmerah Barat.


Inilah gaya para goweser saat beristirahat di pinggir jalan...