Halaman

19 Januari 2012


Bencana Awal Tahun


Penulis : Wiwi Yunianto
Usai keramaian, hiruk - pikuk, keceriaan, perayaan dari yang mubazir hingga yang haram dilakukan untuk menyambut datangnya tahun baru, tanah air tercinta dilanda bencana alam sambung -menyambung, bahkan ada yang bersamaan. Tercatat : Banjir di Buleleng Bali, Banjir akibat lahar dingin di Probolinggo, banjir di Sampang Madura, banjir di Magelang, Angin puting beliung di Jepara , mungkin yang terakhir belum dapat dikelompokan dalam bencana alam: debu vulkanik gunung Anak Krakatau telah mencapai Serang Banten. Masihkah kita bisa tertawa tanpa dosa ? Mungkin ini teguran yang sangat serius ....! Selesai
6 Januari 2011 22 10 WIB
Top of Form

De Vide Et Empera





Penulis : Wiwi Yunianto

            Bagi kita yang suka pelajaran sejarah pasti ingat Perang Padri di Ranah Minang  Kabau, perang antara Laskar Pejuang yang dipimpin oleh  Tuanku  Imam Bonjol di satu pihak  dan kaum adat di lain pihak. Perang ini terjadi tak lepas dari agenda  besar  Pemerintah Penjajah Belanda dalam melancarkan taktik De Vide Et Impera ( taktik pecah belah ).

Tak heran jika belakangan perang ini bukan bukan cuma  antara Laskar Tuanku Imam Bonjol melawan kaum adat tapi juga tawanan yang berasal dari sisa pasukan Pangeran Diponegoro yang kalah perang dihadapkan dengan pasukan Tuanku Imam Bonjol. Suatu taktik perang yang sangat keji. Bukan lantaran pihak yang berhadapan adalah satu bangsa melainkan juga satu keyakinan agama. Uh ! Terlalu !
Dan  saat yang hampir bersamaan di Tanah Jawa, pemerintah Penjajah Belanda dengan sangat licik, menangkap dan memaksa kanjeng Sentot Ali Basyah Prawiro Dirjo menghianati pimpinannya yaitu Kanjeng Pangeran Diponegoro. Sehingga pada suatu perundingan yang telah dirancang secara lagi-lagi sangat licik Kanjeng Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang ke tanah Makasar hingga wafatnya.

      Di tanah Betawi pun tak jauh berbeda, salah satu versi menyebutkan bahwa Pahlawan Rakyat Betawi, Si Pitung terpedaya oleh Pemerintah Penjajah Belanda , setelah informasi yang dikorek dari sahabat Si Pitung , yaitu Ji ih. !

      Di zaman kini, penjajah tak lagi tampak nyata, tapi kalau jeli dan sedikit menggunakan otak; pastilah kita tahu bahwa penjajah dan tak tik De Vide Et Empera masih sangat ampuh dilancarkan :
  1. Pertentangan antara pemeluk agama mengaku seagama tapi berlainan keyakinan makin hari makin tajam dan berlanjut dengan penyerangan .
  2. Kerusuhan antara anak bangsa berbau SARA.
Apakah kita masih menutup mata ?
 Jakarta, 15 Februari 2011   Pukul : 19. 34 WIB

Pendidikan Untuk Apa dan Siapa ?







Semenjak dalam kandungan seorang bayi mengalami pendidikan secara alami; dia belajar bergerak –gerak misalnya. Kemudian ketika dia dilahirkan proses belajar berlanjut terus mulai dari yang paling sederhana, sedikit sulit, sulit , sedikit rumit sampai rumit dan sangat rumit sejalan dengan perkembangan otak, pisik, emosi  dan bergulirnya waktu  hingga dia dewasa bahkan sampai ajal menjemputnya. Dalam perkataan lain manusia belajar selama dia bernafas secara alami bahkan mungkin tanpa ia sendiri menyadarinya.

Jadi kalau ada suatu usaha menghalang-halangi seorang manusia belajar, dengan berbagai alasan yang dikemukakan atau disembunyikan, tentu hal ini tidak sangat berlebihan jika dimasukan dalam tindakan melanggar HAM

Pendidikan pada dasarnya tidak  dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena sadar atau tidak, terpaksa atau suka rela  seluruh manusia mengalami pendidikan. Pendidikan ada, karena manusia ada. Kalau demikian apakah  karena manusia barulah pendidikan itu ada ? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Karena ternyata selain manusia hewan pun mengalami pendidikan dari “orang tua” dan lingkungannya secara umum. Lihat saja bagaimana kucing belajar berlari , melompat dsb, begitu juga burung belajar terbang, itik belajar berenang dst.  Dan tujuan dari pendidikan pun beragam tergantung banyak hal pula yang melatar belakangi dan yang ingin dicapainya.

Tujuan belajar di masa  pejajahan Belanda maupun Jepang tentu hanya untuk kepentingan mereka, di masa Republik ini merdeka tentu untuk kepentingan bangsa ini. Sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD’45 bahwa pendidikan bertujuan untu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak ada disebutkan pendidikan untuk mencari kerja, atau pun untuk membodohi orang lain. Tapi dalam kenyataan saat ini ; tidak perlu diurai terlalu jauh , kita semua sudah dapat merasakannya !
Selesai                                                                Jakarta, 16 Februari 2011 16.20 WIB

Penulis : Wiwi Yunianto

17 Januari 2012



INGIN MASUK PESANTREN



Penulis: Wiwi Yunianto
Mungkin benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa cucu lebih disayang dibanding anak, paling tidak hal ini diperlihatkan oleh Mbah Sastro yang membela keinginan Dirman , cucunya. Dirman ingin masuk pesantren, sementara sang ayah, Suryo tak mengizinkan. Suryo beralasan usia Dirman barulah tujuh  tahun, anak pertama pula, adiknya masih bayi, baru berusia 3 bulan. Artinya, begitu lama Suryo menimang-nimang Dirman barulah anak keduanya lahir. Tapi kemudian Suryo merasa harus dipisahkan dengan buah hatinya itu.
                “Mestinya kamu bangga, bahwa putra pertamamu meskipun masih sangat muda sudah memiliki keinginan yang besar dalam menuntut ilmu. Paling tidak jejakmu sudah terwariskan. Dulu kamu juga begitukan? “ , Mbah Sastro mulai tampak rasa kebanggaan terhadap cucunya.
                “Tapi, kan saya meninggalkan rumah, pergi ke negeri orang setelah lulus SMA”, Suryo mencoba membela diri.
                “Itulah, cucuku itu lebih berani dibandingkan bapaknya,” lagi-lagi mbah Sastro terdengar membanggakan cucunya lebih dari anaknya.
                “Maaf Pak, saya belum dapat mengizinkan Dirman masuk pesantren pada usia yang sangat muda. Kalau mau belajar agama ‘kan bisa di TPA, pengajian atau madrasah. Nah nanti kalau sudah lulus SD barulah saya dapat mengizinkannya,” Suryo mencoba mempertahankan alasannya.
                “ Sepertinya kamu itu tahu segalanya bahkan yang belum terjadi “. Mbah Sastro agak lirih berucap.
Dari balik dinding Dirman menyimak pembicaraan antara ayah dan mbah kakungnya.
 Selesai .

 Ingin Menulis Skenario Sinetron Untuk Istri

Penulis : Wiwi Yunianto

Istri saya sangat gemar menonton sinetron, terutama sinetron lepas atau bukan serial. Hampir tiap ada waktu senggang, biasanya Sabtu dan Ahad dia siap di depan layar kaca. Dengan sangat fokus mengikuti alur cerita, dialog dan adegan sinetron. Kadang ia berkomentar mengenai alur cerita, dialog, atau pun aktor/aktris  yang memerankannya.

Salah satu latar belakang, saya ingin belajar dan mampu menulis adalah saya ingin membuat sebuah skenario sinetron. Saya ingin naskah saya itu diangkat ke layar kaca, saya ingin dia menonton sinetron itu lebih fokus dari biasanya. Saya ingin pula ia berkomentar banyak mengenai hal-hal yang ditampilkan dalam sinetron itu. Dan yang paling saya inginkan adalah, saat ia membaca satu demi satu kata yang ditampilkan pada awal atau akhir sinetron, yaitu nama penulis cerita & skenario  : Wiwi Yunianto  . Tentu saja, saya ingin mendengar komentarnya.
SELESAI

16 Januari 2012

Pemilihan Ketua RW



Cerpen



Penulis: Wiwi Yunianto

         Umurnya belum genap 10 tahun, tapi keingintahuannya persoalan suksesi atau pemilihan  di tingkat RW telah membuatnya bagai seorang pengamat politik independen. Malam ini ada pemilihan ketua RW di lingkungan tempat tinggal Pandu, secara kebetulan dari tiga orang calon ketua RW salah seorang  adalah ayahnya.
Sejak bergulirnya kabar akan di gelar pemilihan ketua RW seminggu yang lalu, Pandu seakan tak pernah bosan mencuri dengar para ketua RT, beberapa pengurus RW dan cukup banyak warga serta tetangga yang bertandang ke rumahnya dalam rangka memberi dukungan kepada ayahnya.  Tiap malam ada saja orang yang datang ke rumahnya, ngobrol dari selepas Isya hingga larut malam. Secara seksama Pandu mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa itu. Pandu jadi agak memahami perkembangan politik di lingkungan rumah tinggalnya. Pandu jadi ingin tahu lebih dalam  tata cara pemilihan dan proses penggantian Ketua RW. Selama ini Pandu  menerima pengetahuan seperti itu hanya secara terori di bangku sekolah dalam pelajaran Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN).
        Pandu secara cermat menggoreskan pena di secarik kertas. Tak dilewatkan sedetik pun matanya, telinganya dari penghitungan suara. Turus demi turus telah tergores. Awalnya tiga calon mendapatkan angka berimbang, namun begitu kertas suara tersisa tinggal setengahnya, satu calon hampir tak mengalami perubahan. Tinggal dua calon yang bersaing cukup ketat angka demi angka berubah secara susul menyusul.
Hati Pandu cukup berdebar-debar saat nama satu calon hampir tak mengalami perubahan, padahal calon yang satunya lagi telah mengalami perubahan hampir lima kali. Barulah hati Pandu agak teratur debarannya, saat nama ketua RW lama yang mencalonkan diri lagi sempat mengalami terhenti perubahan angka. Tapi hal itu tak berlangsung lama ketika perolehan suara sama persis, antara Ketua RW lama dengan satu nama calon yang juga sekretaris RW, sementara sisa kertas suara tinggal satu lembar.
       Bukan cuma debaran hati Pandu tak berirama teratur, tapi juga keringat dingin telah membasahi wajahnya. Tangan kecilnya yang masih memegang pena pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.Dan ketika panitia menyebutkan nama Rohim dengan cukup keras, diikuti suara sorak para pendukung Ketua RW lama, kaki  dan tangan serta seluruh tubuh Pandu pun terasa lemas. Pena yang sedari tadi dipegangnya pun terlepas dan jatuh ke tanah.  Pandu jadi merasa begitu lelah, ia pun duduk di rerumputan di luar pagar bambu halaman kantor RW , tempat pemilihan.
      Suara seorang lelaki yang sangat dikenalnya cukup mengagetkan, Pandu terhenyak dari keterdiamannya. Pandu bangkit dan berjalan mendekati suara panggilan itu.
            “Kanapa Ayah kalah ? “ lirih suara Pandu. Tapi suara itu cukup terdengar oleh ayahnya.
            “Itu biasa dalam pemilihan , Pandu. Ada yang kalah juga ada yang menang”. Ayah Pandu tersenyum.
         “Apakah ayah tidak cukup pantas menggantikan Pak Rohim ?”  Pandu menengadah memandangi  wajah ayahnya.
                  “Pandu, ayo kita pulang. Hari sudah cukup malam. Kamu ‘kan harus bangun pagi besok, sholat shubuh dan berangkat sekolah. Besok ‘kan bukan hari libur.” 
Pandu serasa enggan untuk beranjak.
                “ Ayah, bolehkah Pandu tahu, kenapa ayah kalah dalam pemilihan tadi? “ Pandu seperti merajuk.
                “ Boleh, nanti di rumah ayah akan menerangkannya. Sekarang kita pulang, yuk ! Pandu dituntun menuju tempat sepeda motor ayahnya diparkir.
Sepeda motor yang ditunggangi Pandu dan ayahnya menerobos kegelapan malam menelusuri jalan bebatuan menuju rumahnya. Ada yang tersisa di hati Pandu, sebuah pertanyaan; kenapa ayahnya kalah dalam pemilihan RW .

SELESAI


Kasih Ibu Sepanjang Masa



Cerpen:


Wiwi Yunianto
                Perasaan malu dengan tetangga bercampur rasa kesal yang tiada tara, Anto tanpa pikir panjang langsung menerobos kerumunan tetangga. Anto berlari dengan sebelumnya melemparkan begitu saja kunci motornya. Ibunya berteriak-teriak memanggilnya, tapi Anto tak sedikit pun perduli. Ia merasa sangat kesal, ibunya sering kali memarahinya. Sepertinya apa pun yang ia lakukan pasti salah dan harus diomeli. Ia berlari dan terus berlari menelusuri gang sempit dari rumahnya entah menuju ke mana. Anto berhenti berlari di depan rumah di pinggir jalan yang tak terlalu lebar, cukuplah untuk berpapasan antara mobil dengan sepeda motor. Anto berhenti karena melihat satu kejadian yang tragis.
                Seorang ibu menjerit seperti mempertahankan sesuatu dari seorang pengendara sepeda motor. Kekesalannya di rumah sebelumnya seperti ada saluran untuk meluapkannya. Anto berlari mengahampiri pengendara sepeda motor yang memang dari arah yang berlawanan dengannya. Anto melompat dengan gerakan menendang. Kakinya yang terbungkus sepatu jenis “jungle” atau sepatu yang biasa digunakan oleh penjelajah hutan menghantam dada pengendara sepeda motor itu. Karuan saja pengendara sepeda motor itu terjatuh ke samping kiri, sepentara sepeda motornya sempat melaju dan akhirnya pun jatuh rebah.
Melihat korbannya jatuh , Anto langsung menghujaninya dengan bogem mentah berkali-kali. Sementara itu sang ibu menjerit-jerit meminta Anto untuk menghentikannya. Anto baru berhenti ketika sang ibu telah memeluk lelaki muda pengendara sepeda motor itu, yang tak lain adalah anaknya.
Ibu tadi mencoba mempertahankan uang belanja dagangannya dari anak lelakinya yang selalu merongrongnya untuk berfoya-foya. Anto mengira adegan tadi adalah aksi penjambretan.
Anto terdiam sesaat, tersadar betapa hati seorang ibu sangat menyayangi anaknya, bagaimana pun dia. Anto jadi merasa telah begitu bersalah pada ibunya di rumah. 
Selesai

Anggaran Renovasi Toilet Yang Mencengangkan

Sebuah Opini


Rencana renovasi 220 toilet di 10 lantai gedung parlemen dengan anggaran tak kurang dari 2 milyar, mendulang berbagai tanggapan di banyak kalangan dan lapisan masyarakat.  Seorang reporter televisi swasta mengadakan investigasi harga dan biaya renovasi toilet di beberapa toko  penjual dan jasa renovasi toilet di bilangan Jl. Panglima Polim Jakarta Selatan. Hasilnya; tidak terlalu mengejutkan tetapi cukup memancing pertanyaan. Harga sekaligus biaya pemasangan sebuah toilet dengan mutu istimewa tak lebih dari Rp. 6.000.000,-. Sehingga untuk merenovasi 220 toielt akan menelan biaya sebesar Rp.1.320.000.000,-(Satu Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Juta Rupiah). Pertanyaannya adalah, akan dikemanakan sisa anggaran sekitar Rp.680.000.000,-(Enam Ratus Delapan Puluh Juta Rupiah) itu ?