Halaman

28 Juni 2020

Cek Suhu Tubuh dan Main Kadal-Kadalan

Gambar hanya sebuah ilustrasi saja. Tidak terkait dengan isi tulisan.


Seorang teman ditolak oleh security memasuki sebuah bank. Alasannya karena setelah dilakukan tes temperature di keningnya dengan alat pengukur suhu berbentuk dan penggunaannya pun seperti senjata api genggam, menunjukan angka 37,8. Teman saya pun meminta solusi atau jalan keluar yang terbaik agar transfer tetap dapat dilakukan , meskipun dirinya tak diizinkan masuk ke bank tersebut, mengingat untuk pembayaran via transfer hanya dapat dilakukan pada tanggal di hari tersebut saja.

Security itu pun meminta maaf, mungkin menurut si security caranya sudah sangat baik dan sopan. Security tersebut menyarankan teman saya untuk pulang ke rumah dan melakukan transfer melalui M-Banking dari rumah….Sopan ya , security itu ?

Teman saya marah…cuma memang ditahan , tidak dikeluarkan hanya dilampiaskan dengan membuang kertas tissue yang belum selesai digunakan untuk mengeringan tangannya setelah dibasahi tadi. Tissue itu bukan sekedar dibuang, tetapi dilempar ke dalam pot tanaman yang ada di dekat situ dengan sangat keras. Barangkali jika yang dilempar benda kaca pastilah akan hancur berantakan dengan suara yang cukup keras, tetapi untungnya cuma selembar kertas tissue yang tidak menimbulkan suara gemericik sekali pun.

Teman saya langsung membalikan badan tanpa menyampaikan sepatah kata apa pun, apalagi permisi atau ucapan terima kasih, hatinya kesal bukan main. Karena bukan solusi yang dia terima tetapi penolakan.  Tidak taukah SATPAM itu, bahwa transfer ini sangat penting dan cuma berlaku satu hari pada tanggal tersebut?

“ Aku pasti bisa mentransfer hari ini , tak perlu di bank ini, “ katanya dalam hati. Teman saya itu pun bergegas menuju sepeda motornya. Ia stater mesin sepeda motornya yang sudah tidak baru lagi itu, tetapi cukuplah kalau untuk mamacu kecepatan hingga 100 Km/jam. Teman saya memacu sepeda motor sejadi-jadinya. Cepat, melesat di antara kendaraan bermotor lainnya. Menuju sebuah bank yang sama , tetapi di cabang lain di tempat lain.

Sesampainya di sebuah komplek gedung pemerintah, di mana bank yang sama dengan yang sebelumnya berada, teman saya langsung menuju area parker. Dari area parker , teman saya tidak langsung menuju bank, melainkan mampir sejenak ke toilet untuk sekedar cuci muka. Kemudian teman saya menuju ke sebuah danau buatan tak jauh dari area parkir. Teman saya duduk sebentar di pinggiran danau buatan itu. Menghirup udara segar, duduk di bawah rindangnya pepohonan besar yang tumbuh di pinggiran danau. Sekitar sepuluh menit, barulah teman saya beranjak dari situ menuju gedung yang di sana ada bank yang dimaksud. Sesampainya di gedung yang dituju, teman saya tak lantas memasukinya. Teman saya berdiri sesaat meyakinkan dirinya, bahwa suhu di kepalanya sudah turun, dengan cara menempelkan punggung tangan kanannya di kening, seperti ibunya sering melakukan itu saat dia masih kanak-kanak dulu kalau sedang sakit.

Setelah yakin , barulah teman saya memasuki gedung, benar saja suhu di kepalanya sudah turun. Angka pada alat pengukur menunjukan 36, 1…..he..he..he…tertawalah hatinya. Kemudian dia pun dicek lagi suhunya dengan cara yang sama sesaat sebelum masuk bank, angka yang tercantum 36, 2 naik….sih…tetapi masih sangat mungkin diperbolehkan masuk ke bank dan mengurus urusananya yaitu transfer.

Ach…..di negeri ini soal main kadal-kadalan sih….banyak orang yang jago…..(WY)