Gambar hanya sebuah ilustrasi saja. Tidak terkait dengan isi tulisan.
Seorang teman ditolak oleh
security memasuki sebuah bank. Alasannya karena setelah dilakukan tes
temperature di keningnya dengan alat pengukur suhu berbentuk dan penggunaannya
pun seperti senjata api genggam, menunjukan angka 37,8. Teman saya pun meminta
solusi atau jalan keluar yang terbaik agar transfer tetap dapat dilakukan ,
meskipun dirinya tak diizinkan masuk ke bank tersebut, mengingat untuk
pembayaran via transfer hanya dapat dilakukan pada tanggal di hari tersebut
saja.
Security itu pun meminta maaf,
mungkin menurut si security caranya sudah sangat baik dan sopan. Security
tersebut menyarankan teman saya untuk pulang ke rumah dan melakukan transfer
melalui M-Banking dari rumah….Sopan ya , security itu ?
Teman saya marah…cuma memang
ditahan , tidak dikeluarkan hanya dilampiaskan dengan membuang kertas tissue
yang belum selesai digunakan untuk mengeringan tangannya setelah dibasahi tadi.
Tissue itu bukan sekedar dibuang, tetapi dilempar ke dalam pot tanaman yang ada
di dekat situ dengan sangat keras. Barangkali jika yang dilempar benda kaca
pastilah akan hancur berantakan dengan suara yang cukup keras, tetapi untungnya
cuma selembar kertas tissue yang tidak menimbulkan suara gemericik sekali pun.
Teman saya langsung membalikan
badan tanpa menyampaikan sepatah kata apa pun, apalagi permisi atau ucapan
terima kasih, hatinya kesal bukan main. Karena bukan solusi yang dia terima
tetapi penolakan. Tidak taukah SATPAM
itu, bahwa transfer ini sangat penting dan cuma berlaku satu hari pada tanggal
tersebut?
“ Aku pasti bisa mentransfer hari
ini , tak perlu di bank ini, “ katanya dalam hati. Teman saya itu pun bergegas
menuju sepeda motornya. Ia stater mesin sepeda motornya yang sudah tidak baru
lagi itu, tetapi cukuplah kalau untuk mamacu kecepatan hingga 100 Km/jam. Teman
saya memacu sepeda motor sejadi-jadinya. Cepat, melesat di antara kendaraan
bermotor lainnya. Menuju sebuah bank yang sama , tetapi di cabang lain di
tempat lain.
Sesampainya di sebuah komplek gedung
pemerintah, di mana bank yang sama dengan yang sebelumnya berada, teman saya
langsung menuju area parker. Dari area parker , teman saya tidak langsung
menuju bank, melainkan mampir sejenak ke toilet untuk sekedar cuci muka.
Kemudian teman saya menuju ke sebuah danau buatan tak jauh dari area parkir.
Teman saya duduk sebentar di pinggiran danau buatan itu. Menghirup udara segar,
duduk di bawah rindangnya pepohonan besar yang tumbuh di pinggiran danau.
Sekitar sepuluh menit, barulah teman saya beranjak dari situ menuju gedung yang
di sana ada bank yang dimaksud. Sesampainya di gedung yang dituju, teman saya
tak lantas memasukinya. Teman saya berdiri sesaat meyakinkan dirinya, bahwa
suhu di kepalanya sudah turun, dengan cara menempelkan punggung tangan kanannya
di kening, seperti ibunya sering melakukan itu saat dia masih kanak-kanak dulu
kalau sedang sakit.
Setelah yakin , barulah teman
saya memasuki gedung, benar saja suhu di kepalanya sudah turun. Angka pada alat
pengukur menunjukan 36, 1…..he..he..he…tertawalah hatinya. Kemudian dia pun
dicek lagi suhunya dengan cara yang sama sesaat sebelum masuk bank, angka yang
tercantum 36, 2 naik….sih…tetapi masih sangat mungkin diperbolehkan masuk ke
bank dan mengurus urusananya yaitu transfer.
Ach…..di negeri ini soal main
kadal-kadalan sih….banyak orang yang jago…..(WY)
