Roman hanya duduk
diam. Lidahnya terasa berat, seperti ada beban yang menghimpit setiap kata yang
ingin ia ucapkan. Hatinya nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum menusuk.
Sementara itu, Sabrina terus berbicara pelan, memilih kata-kata dengan
hati-hati. Ia khawatir, kata-katanya melukai perasaan lelaki tampan yang kini
duduk di sampingnya. Wajah Sabrina tetap dihiasi senyum, senyum yang terlalu
cantik di mata Roman. Namun senyum itu justru memperburuk perasaan Roman, yang
terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan.
“Kak Roman, sedari
awal aku sudah menduga,” ujar Sabrina lembut. “Kalau Kakak sayang sama aku.
Tapi aku takut nggak bisa jadi seperti yang Kakak harapkan. Lebih baik kita
berteman saja, ya? Kita tetap bisa bersama-sama ke mana pun kita mau. Aku nggak
akan marah kok, Kak. Aku tetap sayang sama Kak Roman, meskipun suatu saat Kakak
dapat gadis lain yang seperti Kakak harapkan.”
Kata-kata itu
menghantam Roman seperti gelombang yang datang tanpa peringatan. Di dalam
hatinya, ia ingin sekali berkata, “Kamulah gadis yang aku harapkan. Aku yakin
aku bisa membahagiakan kamu. Aku juga yakin kalau kamu pasti bisa membahagiakan
aku.” Namun, kalimat itu tak pernah keluar dari mulutnya. Ia hanya membisu,
diam dalam hening. Ingin sekali ia bangkit, pamit, meninggalkan ruangan itu,
bahkan mungkin meninggalkan Sabrina untuk selamanya. Tapi di sisi lain hatinya,
Roman masih berharap. Berharap Sabrina berubah pikiran, berharap gadis itu mau
menjadi lebih dari sekadar teman.
Di atas meja,
segelas teh manis yang hangat tetap berdiri kokoh. Biasanya, teh itu takkan
bertahan lama. Roman akan menyeruputnya sedikit demi sedikit hingga tandas.
Tapi kali ini, gelas kaca itu tetap utuh, tak tersentuh. Di sampingnya,
sepiring pisang goreng masih utuh pula, tidak dilirik, apalagi dimakan.
Padahal, di kantin sekolah, makanan seperti itu akan lenyap dalam sekejap,
berpindah ke tangan-tangan trampil siswa SMA Nusa Bhakti. Bahkan soal membayar,
Bu Kantin biasanya hanya pasrah sambil berkata, “Gusti Allah ndak sare. Rezeki
ndak bakal tertukar.”
“Kak Roman, kok
diam? Biasanya banyak omong,” tanya Sabrina, sedikit bingung. Roman tak
menjawab. Tatapannya kosong, seperti menatap sesuatu yang tak terlihat.
“Sabrina, aku
pamit pulang, ya?” ucap Roman tiba-tiba.
“Loh, kok?”
Sabrina tampak kaget. Roman yang biasanya begitu antusias berbicara, kini
seperti kehilangan semangat. Dalam hati, Sabrina bertanya-tanya, apa yang
sebenarnya terjadi pada Roman.
Setelah berpamitan
dengan ibu Sabrina, Roman pun melangkah pergi. Langkahnya berat, namun ia
berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi
pertanyaan. Kenapa Sabrina menolaknya? Kenapa hanya ingin berteman? Kata-kata
Sabrina terus terngiang di telinganya, menyiksa hatinya yang sudah terlanjur
berharap.
Tanpa sadar, Roman
telah berjalan begitu jauh. Ia lupa seharusnya ia naik bus atau angkot untuk
pulang dari rumah Sabrina. Ia benar-benar lupa. Langkah-langkahnya membawanya
tanpa arah, hingga ia sadar bahwa kini ia telah berada di gang menuju rumahnya.
Roman berhenti sejenak, memandang jalan sempit yang menuju ke tempat
tinggalnya. Dalam hatinya, ia tahu, hari ini akan menjadi salah satu hari yang
tak terlupakan. Hari di mana ia harus menerima kenyataan pahit bahwa perasaan
tulusnya hanya akan menjadi sebuah kenangan. Sebuah harapan yang tak pernah
sampai. TAMAT. Wy







