Halaman

31 Desember 2024

Berteman Saja


 

Roman hanya duduk diam. Lidahnya terasa berat, seperti ada beban yang menghimpit setiap kata yang ingin ia ucapkan. Hatinya nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum menusuk. Sementara itu, Sabrina terus berbicara pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati. Ia khawatir, kata-katanya melukai perasaan lelaki tampan yang kini duduk di sampingnya. Wajah Sabrina tetap dihiasi senyum, senyum yang terlalu cantik di mata Roman. Namun senyum itu justru memperburuk perasaan Roman, yang terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan.

“Kak Roman, sedari awal aku sudah menduga,” ujar Sabrina lembut. “Kalau Kakak sayang sama aku. Tapi aku takut nggak bisa jadi seperti yang Kakak harapkan. Lebih baik kita berteman saja, ya? Kita tetap bisa bersama-sama ke mana pun kita mau. Aku nggak akan marah kok, Kak. Aku tetap sayang sama Kak Roman, meskipun suatu saat Kakak dapat gadis lain yang seperti Kakak harapkan.”

Kata-kata itu menghantam Roman seperti gelombang yang datang tanpa peringatan. Di dalam hatinya, ia ingin sekali berkata, “Kamulah gadis yang aku harapkan. Aku yakin aku bisa membahagiakan kamu. Aku juga yakin kalau kamu pasti bisa membahagiakan aku.” Namun, kalimat itu tak pernah keluar dari mulutnya. Ia hanya membisu, diam dalam hening. Ingin sekali ia bangkit, pamit, meninggalkan ruangan itu, bahkan mungkin meninggalkan Sabrina untuk selamanya. Tapi di sisi lain hatinya, Roman masih berharap. Berharap Sabrina berubah pikiran, berharap gadis itu mau menjadi lebih dari sekadar teman.

Di atas meja, segelas teh manis yang hangat tetap berdiri kokoh. Biasanya, teh itu takkan bertahan lama. Roman akan menyeruputnya sedikit demi sedikit hingga tandas. Tapi kali ini, gelas kaca itu tetap utuh, tak tersentuh. Di sampingnya, sepiring pisang goreng masih utuh pula, tidak dilirik, apalagi dimakan. Padahal, di kantin sekolah, makanan seperti itu akan lenyap dalam sekejap, berpindah ke tangan-tangan trampil siswa SMA Nusa Bhakti. Bahkan soal membayar, Bu Kantin biasanya hanya pasrah sambil berkata, “Gusti Allah ndak sare. Rezeki ndak bakal tertukar.”

“Kak Roman, kok diam? Biasanya banyak omong,” tanya Sabrina, sedikit bingung. Roman tak menjawab. Tatapannya kosong, seperti menatap sesuatu yang tak terlihat.

“Sabrina, aku pamit pulang, ya?” ucap Roman tiba-tiba.

“Loh, kok?” Sabrina tampak kaget. Roman yang biasanya begitu antusias berbicara, kini seperti kehilangan semangat. Dalam hati, Sabrina bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Roman.

Setelah berpamitan dengan ibu Sabrina, Roman pun melangkah pergi. Langkahnya berat, namun ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Kenapa Sabrina menolaknya? Kenapa hanya ingin berteman? Kata-kata Sabrina terus terngiang di telinganya, menyiksa hatinya yang sudah terlanjur berharap.

Tanpa sadar, Roman telah berjalan begitu jauh. Ia lupa seharusnya ia naik bus atau angkot untuk pulang dari rumah Sabrina. Ia benar-benar lupa. Langkah-langkahnya membawanya tanpa arah, hingga ia sadar bahwa kini ia telah berada di gang menuju rumahnya. Roman berhenti sejenak, memandang jalan sempit yang menuju ke tempat tinggalnya. Dalam hatinya, ia tahu, hari ini akan menjadi salah satu hari yang tak terlupakan. Hari di mana ia harus menerima kenyataan pahit bahwa perasaan tulusnya hanya akan menjadi sebuah kenangan. Sebuah harapan yang tak pernah sampai. TAMAT. Wy

 

29 Desember 2024

Suatu Siang di Perempatan Jalan Raya


 

Matahari bersinar terik, memantulkan panas yang terasa menusuk kulit. Di perempatan jalan raya yang ramai, suara klakson dan deru mesin kendaraan saling bersahutan. Tiba-tiba, suara benturan keras memecah keramaian.

Brak!

Sandi, seorang pria muda dengan seragam kemeja putih dan celana hitam, refleks menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat seorang lelaki bertubuh tinggi besar tergeletak di aspal. Sepeda motor korban terjatuh tak jauh dari tubuhnya. Mesinnya masih menyala, dan roda depan yang penyok berputar perlahan.

Tanpa berpikir panjang, Sandi berlari menghampiri lelaki itu. Ternyata, dari berbagai arah, beberapa orang lain juga mendekat. "Ayo, angkat dia ke trotoar!" seru salah seorang pria tua berbaju batik. Sandi, bersama beberapa orang lainnya, berusaha mengangkat tubuh besar korban. Dengan tenaga gabungan, mereka berhasil memindahkannya ke tepi jalan.

Sandi melihat wajah lelaki itu lebih dekat. Mulutnya dipenuhi darah segar, dan matanya menatap kosong, seolah kehilangan fokus. Erangan pelan keluar dari bibirnya, membuat Sandi merasa ngeri sekaligus prihatin.

Di sisi lain, beberapa orang sibuk mematikan mesin motor korban dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Tak lama kemudian, seorang petugas polisi lalu lintas datang. Dia tampak menenangkan situasi, memberi isyarat kepada para pengendara agar melambat dan tidak mendekati lokasi kecelakaan.

Merasa tugas daruratnya selesai, Sandi melirik jam tangannya. "Aduh, hampir terlambat!" pikirnya. Dia segera menyebrang jalan menuju halte, tempat dia biasa menunggu bus yang akan membawanya ke restoran cepat saji tempatnya bekerja.

Angin siang menerpa wajahnya saat ia berdiri di halte, berusaha mengatur napas yang masih terengah. Dalam hati, ia merenung. Kecelakaan tadi mengingatkannya akan pentingnya berhati-hati di jalan. Namun, ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan lebih jauh. Bus yang ditunggunya akhirnya datang, dan Sandi melangkah naik, bersiap menghadapi kesibukan sift siangnya.

Namun, dalam perjalanan menuju tempat kerja, bayangan lelaki yang tergeletak dengan darah di mulutnya terus terlintas di pikirannya. Entah bagaimana, ia merasa sedikit lega telah membantu meski hanya sebentar. Bagi Sandi, itu adalah pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama, sekecil apa pun, bisa berarti besar di saat-saat genting. Selesai Wy

 

Gowes Seru ke Danau Citra Garden Delapan



Jakarta, Ahad, 29 Desember 2024  Kegiatan gowes pagi ini menjadi pengalaman seru bagi delapan gowesser: Aldi, Musthafa, Deny Zakaria, Arya/Acep, Popo Yunianto, Wiwi Yunanto, Anton, dan Defan. Mereka memulai perjalanan dari Gang Wegiok pada pukul 06.30, mengayuh sepeda dengan penuh semangat menuju Danau Citra Garden Delapan.

  
Perjalanan dimulai dengan menyusuri Jalan Letjen S. Parman, melintasi Jalan Daan Mogot, Pasar Cengkareng, dan Jalan Kamal Raya. Setelah itu, mereka berbelok ke Agung Sedayu. Di sini, dua peserta, yaitu wiwi Yunianto dan musthafa sempat terpisah ke Jalan Kamal tetapi  setelah beberapa kali mengadakan kontak via hp dan beberapa kali bertanya kepada orang-orang setempat akhirnya berhasil bertemu kembali di kawasan perumahan Citra Enam. Dengan formasi lengkap, rombongan melanjutkan perjalanan hingga tiba di Danau Citra Garden Delapan. Jarak tempuh dari titik ke berangkatan hingga titik tujuan sekitar 18,9 KM dengan waktu tempuh selama 2 jam 24 menit 13 detik.

Setelah menikmati suasana danau, rombongan mampir ke rumah teman Aldi di Jalan Nangka, Cengkareng. Setelah beristirahat sejenak termasuk makan siang dan sholat zhuhur berjamaah di masjid, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan rute berbeda.

Rute pulang kali ini melewati Jalan Utama Raya yang tembus ke Jalan Daan Mogot. Dari perempatan Cengkareng, rombongan berbelok ke kiri, melintasi Jalan Puri, lalu menyusuri Jalan Arjuna Utara yang berada di samping Tol Jakarta-Merak.

Saat tiba di bawah kolong Jalan Tanjung Duren Raya , rombongan memutar arah ke jalan layang menuju Kemanggisan. Mereka berbelok ke Jalan H. Djunaedi, menembus kawasan Kemanggisan Pulo hingga ke Kompleks Hankam. Setelah melintasi Jembatan Hankam, rombongan berbelok kiri ke Jalan Arteri Kali Grogol.

Sesampainya di Gang Masjid Nurul Jannah, peserta satu persatu goweser mulai berpisah menuju rumah masing-masing. Rute goweser pertama yang berpisah adalah  Popo Yunianto langsung ke rumahnya, goweser berikut Defan, kemudian Arya/Acept berikutnya Aldi dan Deny Zakaria serta terakhir  penulis berita, yang juga salah satu peserta, menjadi penutup perjalanan dengan tiba di rumahnya di RT 003 RW 016. Sementara peserta terpisah adalah Musthafa, dan Anton. Mulai terpisah di jalan Arjuna Utara sebelum kolong jembatan layang Tanjung Duren. Saat itu ustadz Deni mampir ke bengkel untuk isi angin ban sepedanya.

Perjalanan gowes ini menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan bagi para peserta. Semangat dan kekompakan mereka menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menikmati olahraga sambil menjelajahi kota. Sampai jumpa di perjalanan gowes berikutnya ! Wy  (Tamat)


Beristirahat sejenak di perempatan Cengkareng

Lokasi ini sebagai titik pertemuan setelah sempat terpisah


Akhirnya para goweser tiba di tujuan Danau Citra Delapan

Menikmati suasana danau sekaligus ubi bakar Cilebut

Bukti jarak tempuh dan waktu tempuh para goweser


 Musthafa beserta goweser lain sholat zhuhur di masjid ini.














 

Top of Form

 

Bottom of Form