Halaman

10 Februari 2025

Gowes ke Lapangan Banteng: Menikmati Pagi di Tengah Kota


Ahad, 9 Februari 2025, cuaca pagi Jakarta sempat menimbulkan kekhawatiran bagi para goweser. Hujan yang turun menjelang Subuh mengingatkan bahwa beberapa hari belakangan kota ini kerap diguyur hujan. Namun, semangat dan kekompakan para goweser tetap menyala. Delapan goweser dengan penuh semangat mengayuh pedal mereka, memulai perjalanan dari Palmerah Utara, melewati Tanah Abang, Prapatan, hingga akhirnya tiba di Lapangan Banteng. Hawa dingin yang menyelimuti Jakarta justru terasa menyegarkan berkat aktivitas bersepeda yang menghangatkan tubuh.

Lapangan Banteng, yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa Indonesia, menjadi tujuan utama. Monumen Pembebasan Irian Barat berdiri gagah sebagai simbol perjuangan, sementara di masa lalu, kawasan ini juga pernah menjadi pusat terminal bus yang melayani berbagai rute di Jakarta.

Setibanya di lokasi, para goweser memarkirkan sepeda mereka di tempat yang aman. Mereka kemudian berjalan kaki menelusuri taman, menikmati udara segar yang disaring oleh pepohonan rindang. Pemandangan beragam aktivitas warga menambah semarak suasana. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak sibuk dengan kegiatan olahraga masing-masing, mulai dari berjalan kaki, jogging, senam, hingga olahraga ringan lainnya.

Swafoto menjadi aktivitas wajib bagi para goweser, mengabadikan momen di berbagai lokasi menarik. Bahkan sebelum tiba di Lapangan Banteng, mereka sudah berfoto di depan Markas Marinir di Jalan Prapatan. Setelah puas berkeliling dan berfoto, akhirnya mereka menemukan spot nyaman untuk beristirahat dan menikmati coffee break.

Minuman hangat seperti kopi, coffee mix, dan susu jahe menjadi pilihan utama, ditemani camilan sederhana seperti telur rebus dan kue kamir. Obrolan ringan hingga topik berat, seperti isu pagar laut, mewarnai perbincangan mereka. Momen ini menjadi ajang keakraban, memberikan kesempatan bagi para goweser untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Tanpa terasa, waktu terus bergulir, dan akhirnya tiba saatnya untuk pulang. Beberapa goweser harus melanjutkan aktivitas lain. Dengan semangat yang tetap menyala, mereka berjanji untuk kembali bersepeda pekan depan, dengan tujuan yang berbeda. Sampai jumpa di perjalanan gowes berikutnya!

(Wy)

 

Persiapan logistik

Persiapan personel

Pernah ingin jadi, tapi...jadi goweser akhirnya.

Di depan tugu Pembebasan Irian Barat

Kongkow kita...











 

29 Januari 2025

Jakarta Diselimuti Hawa Dingin, Gowes Melaju Terus



 

Siap gowess

Jakarta, 29 Januari 2025 - Hawa dingin yang menusuk tubuh terasa begitu nyata di bekas ibu kota. Hujan yang mengguyur Jakarta hampir sepanjang malam membuat pagi hari ini menjadi lebih sejuk dari biasanya. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menarik selimut lebih erat dan bermalas-malasan di tempat tidur. Namun, hal ini tidak berlaku bagi tiga orang goweser yang tetap bersemangat mengayuh sepeda mereka.

Sejak pagi buta, ketiganya telah bersiap dengan perlengkapan bersepedanya. Tepat pukul enam pagi, mereka mulai mengayuh sepeda, menelusuri aspal di Jalan Palmerah Utara. Sesampainya di zebra cross di bawah lampu lalu lintas, mereka berhenti sejenak, lalu berbelok ke kanan saat lampu hijau menyala, melanjutkan perjalanan melalui Jalan Jenderal Gatot Subroto. Hawa dingin yang menyelimuti Jakarta tak mengurangi semangat mereka, bahkan ketika salah satu sepeda mengalami masalah rantai terlepas dari crank. Setelah perbaikan singkat, perjalanan kembali dilanjutkan.

Suasana jalanan terasa lebih lengang dari biasanya. Hari ini adalah libur nasional Tahun Baru Imlek, membuat jalan-jalan di Jakarta tidak sepadat hari biasa. Tanpa hambatan berarti, mereka akhirnya tiba di tujuan, Taman Mataram, yang terletak di pinggir Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Selong, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebelum hujan kembali mengguyur dengan deras, para goweser menyempatkan diri untuk berfoto di taman yang rindang tersebut. Tak lama, hujan turun cukup lebat, memaksa mereka untuk berteduh di sebuah tempat yang telah disediakan. Bangku-bangku kayu yang menopang pada cor-coran menjadi tempat perlindungan dari hujan. Di sana, mereka tidak sendirian. Ada pasangan suami istri yang tengah menikmati sarapan bubur, serta dua orang lainnya yang tampaknya berteduh sejenak di taman tersebut. Para pekerja taman yang semula sibuk membersihkan dan merawat area hijau itu sudah tak terlihat, kemungkinan besar berlindung di kantor pengelola taman yang berada di sekitar lokasi.

Taman Mataram yang terawat dengan baik ini tidak hanya dipenuhi pepohonan dan rerumputan hijau, tetapi juga memiliki sebuah monumen tokoh kosmonot Uni Soviet,      Yuri Alekseyevich Gagarin, yang berdiri tegak dengan kedua tangan membentang. Tempat ini biasanya ideal untuk jogging dan rekreasi ringan. Namun, karena hujan turun cukup deras, satu-satunya aktivitas yang dapat dilakukan adalah menunggu hujan reda sambil menyeruput kopi hangat dan menikmati camilan yang ada.

Meski Jakarta diselimuti hawa dingin dan hujan deras, semangat para goweser untuk terus mengayuh pedal tak surut. Bagi mereka, bersepeda bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup yang menyenangkan. (Wy)

Dua orang gowesser tengah mengarahkan telunjuk mereka ke monimen Yuri Gagarin


Ustadz Deni tengah menuiapkan minuman hangat.


Jakarta Sepi....




Sepeda harus dituntun saat melintasi jembatan orang di statsiun kereta Palmerah.







 


13 Januari 2025

Gowes Bareng Memunculkan Solidaritas di Tengah Perjalanan


Ahad, 12 Januari 2025, rombongan goweser yang baru saja menikmati perjalanan dari Eco Park melanjutkan rute mereka melintasi aspal di kawasan Tebet, tepatnya di Jalan Raya Sahardjo. Namun, perjalanan yang awalnya lancar berubah menjadi sedikit menantang saat salah satu sepeda anggota rombongan mengalami masalah teknis. Tepat di depan komplek perumahan AKABRI, rombongan terpaksa berhenti untuk menangani sepeda yang macet dan tidak bisa digerakkan.

Para goweser dengan sigap memeriksa kondisi roda belakang sepeda tersebut. Meski telah berulang kali melepas dan memasang roda belakang, masalah tetap belum teratasi. Setelah diskusi, diputuskan untuk membongkar as roda belakang. Ternyata, penyebab utama masalah adalah mur yang macet dan tidak bisa dilepas. Sayangnya, kunci pas ukuran 16 yang diperlukan tidak tersedia, sehingga rombongan mencoba meminta bantuan ke bengkel sepeda motor di sekitar lokasi. Namun, montir di sana menyatakan tidak bisa membantu.

Setelah bertanya kepada beberapa warga sekitar, rombongan akhirnya sepakat membawa sepeda tersebut ke bengkel sepeda yang jaraknya cukup jauh. Karena roda belakang hanya terpasang sementara, sepeda tidak bisa dikendarai. Pemilik sepeda pun berjalan sambil menuntun sepedanya, diikuti oleh beberapa anggota rombongan lainnya yang turut berjalan menuntun sepeda mereka. Sementara itu, dua goweser mengambil inisiatif untuk melaju lebih dulu guna mencari lokasi bengkel yang dimaksud.

Tak lama kemudian, dua goweser yang mendahului berhasil menemukan bengkel sepeda dan memberi arahan kepada rombongan. Sesampainya di bengkel, montir langsung menangani kerusakan sepeda. Setelah memeriksa kondisi roda belakang, montir menawarkan penggantian as dan gotri. Pemilik sepeda, yang akrab disapa Oe, memutuskan untuk mengganti gotri dengan bearing atau klaher demi kualitas yang lebih baik.

Proses perbaikan sepeda memakan waktu sekitar setengah jam. Selagi menunggu, salah satu goweser memanfaatkan waktu untuk mengisi perut dengan makan bubur, mengaku sudah tidak tahan lapar. Setelah sepeda selesai diperbaiki, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir mereka. Namun, sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka sepakat untuk mampir terlebih dahulu ke warung burjo di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Di sana, dua goweser yang sempat melaju lebih dahulu sudah menunggu rombongan.

Perjalanan kali ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga momen yang memperlihatkan solidaritas di antara para goweser. Saling membantu dalam menghadapi masalah di tengah perjalanan menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kunci dalam komunitas ini. (Wy)


Cofee break di dalam Eco Park

Persiapan pulang 

Akhirnya masuk bengkel

Berpose di depan burjo









 


 

6 Januari 2025

Petualangan Gowes ke Wilayah Barat

 



Seru, Menantang, dan Penuh Kejutan


Ahad pagi yang cerah menjadi momen tak terlupakan bagi sembilan goweser yang memulai perjalanan mereka menuju wilayah barat Jakarta. Terdiri dari SW, Al, UD, ML, WY, PY, Ou, An, dan AC, rombongan ini mengawali kegiatan dengan semangat tinggi. Namun, perjalanan mereka kali ini tidak hanya diwarnai oleh serunya melintasi berbagai rute, tetapi juga beberapa insiden dan tantangan yang membuat pengalaman semakin berkesan.

Dua anak usia SD, Bc dan Ra, sempat ingin bergabung dalam rombongan. Namun, ML dengan bijak memberikan nasihat agar mereka tidak ikut, mengingat jarak yang jauh, medan yang sulit, serta risiko kelelahan. Setelah sesi foto bersama untuk mengabadikan momen, perjalanan pun dimulai.


Perjalanan yang Penuh Dinamika

Dari gang-gang kecil hingga jalan KH. Syahdan dan Kebon Jeruk Raya, rombongan mulai mengayuh pedal dengan penuh semangat. Namun, tidak lama berselang, satu peserta harus kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Hal ini membuat rombongan terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok depan terdiri dari Al, WY, dan SW, sementara sisanya berada di kelompok belakang.

WY, yang berada di kelompok depan, menyadari adanya perbedaan jarak yang signifikan. Dengan bijak, dia memutuskan untuk berhenti di pertigaan Jalan Panjang guna menunggu rombongan belakang. Setelah menanti sekitar 10-15 menit, kelompok kedua akhirnya muncul, tetapi tanpa PY yang memutuskan kembali ke rumah. Kelompok yang sudah lengkap (tanpa PY) pun melanjutkan perjalanan bersama.

                                                          Insiden di Lampu Merah

Perjalanan berlanjut melewati perempatan Srengseng dengan medan berkelok, mendaki, dan menurun. Di lampu merah, rombongan berhenti menunggu lampu hijau. Di sini, sempat terjadi insiden kecil yang membuat jantung berdegup kencang. Ou, yang mencoba menyalip sebuah mobil, hampir terlibat tabrakan. Beruntung, sopir mobil sigap menginjak rem sehingga situasi tetap terkendali. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, rombongan melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.

Menikmati Sejuknya Jalanan Kedoya

Setelah melewati jembatan penghubung wilayah Kebon Jeruk dengan Kedoya, rombongan menemukan jalanan yang rindang dengan pepohonan hijau. Nuansa sejuk dan segar membuat perjalanan terasa menyenangkan, meski berada di tengah kota. Mendekati Kantor Walikota Jakarta Barat, rombongan kembali terpisah menjadi dua. SW, AC, dan WY tertinggal di belakang, sementara rombongan lain sudah tak tampak. Usaha komunikasi yang menguras kesabaran akhirnya berhasil menyatukan mereka kembali.

Di depan pintu gerbang Kantor Walikota, kelompok pertama yang sudah menunggu menyambut rombongan belakang. Mereka pun beristirahat sejenak, mengabadikan momen dengan berfoto-foto, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Tiba di Tujuan: Taman Wujaya Kusuma

Rombongan akhirnya tiba di destinasi utama, Taman Wujaya Kusuma, Semanan, Jakarta Barat. Meskipun perjalanan ini diwarnai dengan berbagai tantangan, mulai dari terpisahnya rombongan hingga insiden kecil di jalan, semangat kebersamaan para goweser tetap terjaga hingga akhir.

Gowes kali ini bukan sekadar olahraga, tetapi juga ajang mempererat persaudaraan dan menikmati keindahan kota Jakarta yang sering luput dari perhatian. Sampai jumpa di petualangan gowes berikutnya! 


Dua orang anak SD akhirnya ikut para goweser dalam berfoto

Berhenti sejenak untuk mengecek, mana tau transferan telah masuk,,,,

Inginnya seolah-olah di tepi sungai dalam kota den Hag...

Cari TU ( tempat uuuueenaaak) buat menikmati cemilan.

Keren..banget berpose di tepi danau Toba.....hi...hi...hi....


Maksi butuh dan perlu.


Seusai sholat zhuhur.