Cerpen
Penulis: Wiwi Yunianto
Umurnya belum genap 10 tahun,
tapi keingintahuannya persoalan suksesi atau pemilihan di tingkat RW telah membuatnya bagai seorang
pengamat politik independen. Malam ini ada pemilihan ketua RW di lingkungan
tempat tinggal Pandu, secara kebetulan dari tiga orang calon ketua RW salah seorang adalah ayahnya.
Sejak bergulirnya kabar akan di
gelar pemilihan ketua RW seminggu yang lalu, Pandu seakan tak pernah bosan
mencuri dengar para ketua RT, beberapa pengurus RW dan cukup banyak warga serta
tetangga yang bertandang ke rumahnya dalam rangka memberi dukungan kepada
ayahnya. Tiap malam ada saja orang yang
datang ke rumahnya, ngobrol dari selepas Isya hingga larut malam. Secara
seksama Pandu mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa itu. Pandu jadi agak
memahami perkembangan politik di lingkungan rumah tinggalnya. Pandu jadi ingin
tahu lebih dalam tata cara pemilihan dan
proses penggantian Ketua RW. Selama ini Pandu
menerima pengetahuan seperti itu hanya secara terori di bangku sekolah
dalam pelajaran Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN).
Pandu secara cermat menggoreskan
pena di secarik kertas. Tak dilewatkan sedetik pun matanya, telinganya dari
penghitungan suara. Turus demi turus telah tergores. Awalnya tiga calon
mendapatkan angka berimbang, namun begitu kertas suara tersisa tinggal
setengahnya, satu calon hampir tak mengalami perubahan. Tinggal dua calon yang
bersaing cukup ketat angka demi angka berubah secara susul menyusul.
Hati Pandu cukup berdebar-debar
saat nama satu calon hampir tak mengalami perubahan, padahal calon yang satunya
lagi telah mengalami perubahan hampir lima kali. Barulah hati Pandu agak
teratur debarannya, saat nama ketua RW lama yang mencalonkan diri lagi sempat
mengalami terhenti perubahan angka. Tapi hal itu tak berlangsung lama ketika
perolehan suara sama persis, antara Ketua RW lama dengan satu nama calon yang
juga sekretaris RW, sementara sisa kertas suara tinggal satu lembar.
Bukan cuma debaran hati Pandu tak
berirama teratur, tapi juga keringat dingin telah membasahi wajahnya. Tangan
kecilnya yang masih memegang pena pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak
gatal.Dan ketika panitia menyebutkan nama Rohim dengan cukup keras, diikuti
suara sorak para pendukung Ketua RW lama, kaki
dan tangan serta seluruh tubuh Pandu pun terasa lemas. Pena yang sedari
tadi dipegangnya pun terlepas dan jatuh ke tanah. Pandu jadi merasa begitu lelah, ia pun duduk
di rerumputan di luar pagar bambu halaman kantor RW , tempat pemilihan.
Suara seorang lelaki yang sangat
dikenalnya cukup mengagetkan, Pandu terhenyak dari keterdiamannya. Pandu
bangkit dan berjalan mendekati suara panggilan itu.
“Kanapa
Ayah kalah ? “ lirih suara Pandu. Tapi suara itu cukup terdengar oleh ayahnya.
“Itu
biasa dalam pemilihan , Pandu. Ada yang kalah juga ada yang menang”. Ayah Pandu
tersenyum.
“Apakah
ayah tidak cukup pantas menggantikan Pak Rohim ?” Pandu menengadah memandangi wajah ayahnya.
“Pandu, ayo kita pulang. Hari sudah cukup
malam. Kamu ‘kan harus bangun pagi besok, sholat shubuh dan berangkat sekolah.
Besok ‘kan bukan hari libur.”
Pandu serasa enggan untuk
beranjak.
“
Ayah, bolehkah Pandu tahu, kenapa ayah kalah dalam pemilihan tadi? “ Pandu
seperti merajuk.
“
Boleh, nanti di rumah ayah akan menerangkannya. Sekarang kita pulang, yuk ! Pandu
dituntun menuju tempat sepeda motor ayahnya diparkir.
Sepeda motor yang ditunggangi
Pandu dan ayahnya menerobos kegelapan malam menelusuri jalan bebatuan menuju
rumahnya. Ada yang tersisa di hati Pandu, sebuah pertanyaan; kenapa ayahnya
kalah dalam pemilihan RW .
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar