Halaman

19 Januari 2012

De Vide Et Empera





Penulis : Wiwi Yunianto

            Bagi kita yang suka pelajaran sejarah pasti ingat Perang Padri di Ranah Minang  Kabau, perang antara Laskar Pejuang yang dipimpin oleh  Tuanku  Imam Bonjol di satu pihak  dan kaum adat di lain pihak. Perang ini terjadi tak lepas dari agenda  besar  Pemerintah Penjajah Belanda dalam melancarkan taktik De Vide Et Impera ( taktik pecah belah ).

Tak heran jika belakangan perang ini bukan bukan cuma  antara Laskar Tuanku Imam Bonjol melawan kaum adat tapi juga tawanan yang berasal dari sisa pasukan Pangeran Diponegoro yang kalah perang dihadapkan dengan pasukan Tuanku Imam Bonjol. Suatu taktik perang yang sangat keji. Bukan lantaran pihak yang berhadapan adalah satu bangsa melainkan juga satu keyakinan agama. Uh ! Terlalu !
Dan  saat yang hampir bersamaan di Tanah Jawa, pemerintah Penjajah Belanda dengan sangat licik, menangkap dan memaksa kanjeng Sentot Ali Basyah Prawiro Dirjo menghianati pimpinannya yaitu Kanjeng Pangeran Diponegoro. Sehingga pada suatu perundingan yang telah dirancang secara lagi-lagi sangat licik Kanjeng Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang ke tanah Makasar hingga wafatnya.

      Di tanah Betawi pun tak jauh berbeda, salah satu versi menyebutkan bahwa Pahlawan Rakyat Betawi, Si Pitung terpedaya oleh Pemerintah Penjajah Belanda , setelah informasi yang dikorek dari sahabat Si Pitung , yaitu Ji ih. !

      Di zaman kini, penjajah tak lagi tampak nyata, tapi kalau jeli dan sedikit menggunakan otak; pastilah kita tahu bahwa penjajah dan tak tik De Vide Et Empera masih sangat ampuh dilancarkan :
  1. Pertentangan antara pemeluk agama mengaku seagama tapi berlainan keyakinan makin hari makin tajam dan berlanjut dengan penyerangan .
  2. Kerusuhan antara anak bangsa berbau SARA.
Apakah kita masih menutup mata ?
 Jakarta, 15 Februari 2011   Pukul : 19. 34 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar