Penulis : Wiwi Yunianto
Bagi kita yang suka pelajaran
sejarah pasti ingat Perang Padri di Ranah Minang Kabau, perang antara
Laskar Pejuang yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol di satu
pihak dan kaum adat di lain pihak. Perang ini terjadi tak lepas dari
agenda besar Pemerintah Penjajah Belanda dalam melancarkan taktik
De Vide Et Impera ( taktik pecah belah ).
Tak heran jika
belakangan perang ini bukan bukan cuma antara Laskar Tuanku Imam Bonjol
melawan kaum adat tapi juga tawanan yang berasal dari sisa pasukan Pangeran
Diponegoro yang kalah perang dihadapkan dengan pasukan Tuanku Imam Bonjol.
Suatu taktik perang yang sangat keji. Bukan lantaran pihak yang berhadapan
adalah satu bangsa melainkan juga satu keyakinan agama. Uh ! Terlalu !
Dan saat yang
hampir bersamaan di Tanah Jawa, pemerintah Penjajah Belanda dengan sangat licik,
menangkap dan memaksa kanjeng Sentot Ali Basyah Prawiro Dirjo menghianati
pimpinannya yaitu Kanjeng Pangeran Diponegoro. Sehingga pada suatu perundingan
yang telah dirancang secara lagi-lagi sangat licik Kanjeng Pangeran Diponegoro ditangkap
dan dibuang ke tanah Makasar hingga wafatnya.
Di tanah Betawi pun tak jauh berbeda,
salah satu versi menyebutkan bahwa Pahlawan Rakyat Betawi, Si Pitung terpedaya
oleh Pemerintah Penjajah Belanda , setelah informasi yang dikorek dari sahabat
Si Pitung , yaitu Ji ih. !
Di zaman kini, penjajah tak lagi tampak
nyata, tapi kalau jeli dan sedikit menggunakan otak; pastilah kita tahu bahwa
penjajah dan tak tik De Vide Et Empera masih sangat ampuh dilancarkan :
- Pertentangan antara pemeluk
agama mengaku seagama tapi berlainan keyakinan makin hari makin tajam dan
berlanjut dengan penyerangan .
- Kerusuhan antara anak bangsa
berbau SARA.
Apakah kita masih menutup mata ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar