Halaman

29 Desember 2024

Suatu Siang di Perempatan Jalan Raya


 

Matahari bersinar terik, memantulkan panas yang terasa menusuk kulit. Di perempatan jalan raya yang ramai, suara klakson dan deru mesin kendaraan saling bersahutan. Tiba-tiba, suara benturan keras memecah keramaian.

Brak!

Sandi, seorang pria muda dengan seragam kemeja putih dan celana hitam, refleks menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat seorang lelaki bertubuh tinggi besar tergeletak di aspal. Sepeda motor korban terjatuh tak jauh dari tubuhnya. Mesinnya masih menyala, dan roda depan yang penyok berputar perlahan.

Tanpa berpikir panjang, Sandi berlari menghampiri lelaki itu. Ternyata, dari berbagai arah, beberapa orang lain juga mendekat. "Ayo, angkat dia ke trotoar!" seru salah seorang pria tua berbaju batik. Sandi, bersama beberapa orang lainnya, berusaha mengangkat tubuh besar korban. Dengan tenaga gabungan, mereka berhasil memindahkannya ke tepi jalan.

Sandi melihat wajah lelaki itu lebih dekat. Mulutnya dipenuhi darah segar, dan matanya menatap kosong, seolah kehilangan fokus. Erangan pelan keluar dari bibirnya, membuat Sandi merasa ngeri sekaligus prihatin.

Di sisi lain, beberapa orang sibuk mematikan mesin motor korban dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Tak lama kemudian, seorang petugas polisi lalu lintas datang. Dia tampak menenangkan situasi, memberi isyarat kepada para pengendara agar melambat dan tidak mendekati lokasi kecelakaan.

Merasa tugas daruratnya selesai, Sandi melirik jam tangannya. "Aduh, hampir terlambat!" pikirnya. Dia segera menyebrang jalan menuju halte, tempat dia biasa menunggu bus yang akan membawanya ke restoran cepat saji tempatnya bekerja.

Angin siang menerpa wajahnya saat ia berdiri di halte, berusaha mengatur napas yang masih terengah. Dalam hati, ia merenung. Kecelakaan tadi mengingatkannya akan pentingnya berhati-hati di jalan. Namun, ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan lebih jauh. Bus yang ditunggunya akhirnya datang, dan Sandi melangkah naik, bersiap menghadapi kesibukan sift siangnya.

Namun, dalam perjalanan menuju tempat kerja, bayangan lelaki yang tergeletak dengan darah di mulutnya terus terlintas di pikirannya. Entah bagaimana, ia merasa sedikit lega telah membantu meski hanya sebentar. Bagi Sandi, itu adalah pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama, sekecil apa pun, bisa berarti besar di saat-saat genting. Selesai Wy

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar