Matahari bersinar terik, memantulkan panas yang
terasa menusuk kulit. Di perempatan jalan raya yang ramai, suara klakson dan
deru mesin kendaraan saling bersahutan. Tiba-tiba, suara benturan keras memecah
keramaian.
Brak!
Sandi, seorang pria muda dengan seragam kemeja
putih dan celana hitam, refleks menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat
seorang lelaki bertubuh tinggi besar tergeletak di aspal. Sepeda motor korban
terjatuh tak jauh dari tubuhnya. Mesinnya masih menyala, dan roda depan yang
penyok berputar perlahan.
Tanpa berpikir panjang, Sandi berlari menghampiri
lelaki itu. Ternyata, dari berbagai arah, beberapa orang lain juga mendekat.
"Ayo, angkat dia ke trotoar!" seru salah seorang pria tua berbaju
batik. Sandi, bersama beberapa orang lainnya, berusaha mengangkat tubuh besar
korban. Dengan tenaga gabungan, mereka berhasil memindahkannya ke tepi jalan.
Sandi melihat wajah lelaki itu lebih dekat.
Mulutnya dipenuhi darah segar, dan matanya menatap kosong, seolah kehilangan
fokus. Erangan pelan keluar dari bibirnya, membuat Sandi merasa ngeri sekaligus
prihatin.
Di sisi lain, beberapa orang sibuk mematikan
mesin motor korban dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Tak lama
kemudian, seorang petugas polisi lalu lintas datang. Dia tampak menenangkan
situasi, memberi isyarat kepada para pengendara agar melambat dan tidak
mendekati lokasi kecelakaan.
Merasa tugas daruratnya selesai, Sandi melirik
jam tangannya. "Aduh, hampir terlambat!" pikirnya. Dia segera
menyebrang jalan menuju halte, tempat dia biasa menunggu bus yang akan
membawanya ke restoran cepat saji tempatnya bekerja.
Angin siang menerpa wajahnya saat ia berdiri di
halte, berusaha mengatur napas yang masih terengah. Dalam hati, ia merenung.
Kecelakaan tadi mengingatkannya akan pentingnya berhati-hati di jalan. Namun,
ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan lebih jauh. Bus yang ditunggunya
akhirnya datang, dan Sandi melangkah naik, bersiap menghadapi kesibukan sift
siangnya.
Namun, dalam perjalanan menuju tempat kerja,
bayangan lelaki yang tergeletak dengan darah di mulutnya terus terlintas di
pikirannya. Entah bagaimana, ia merasa sedikit lega telah membantu meski hanya
sebentar. Bagi Sandi, itu adalah pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama,
sekecil apa pun, bisa berarti besar di saat-saat genting. Selesai Wy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar