Hari ini, Joko berdiri di depan gedung pertemuan,
tepat seperti yang tertulis di kartu undangan. Hatinya berat, tetapi ia tetap
melangkahkan kaki ke sana. Hari ini adalah pernikahan Gadis, teman yang
dikenalnya sejak kecil, tepatnya sejak mereka masuk sekolah dasar. Joko
mengenang masa-masa itu. Entah apa yang dirasakannya saat itu, mungkin bukan
cinta seperti yang dirasakan orang dewasa. Namun, setiap kali melihat Gadis,
hatinya selalu berbunga-bunga. Kebahagiaan sederhana ketika mereka berbicara
atau tertawa bersama membuat hidupnya penuh warna.
Saat sekolah dasar, Joko selalu berusaha berada
di dekat Gadis. Apapun kegiatan sekolah, ia selalu mencari cara untuk bisa
bersama. Namun, di luar sekolah, ia tak pernah punya keberanian untuk datang ke
rumah Gadis. Mungkin jarak yang membuatnya ragu, atau mungkin rasa malu yang
tak terjelaskan. Enam tahun berlalu dengan kebahagiaan kecil itu, tetapi
semuanya berubah ketika mereka memilih SMP yang berbeda. Perpisahan itu
menyakitkan, lebih dari yang pernah ia bayangkan.
Tiga tahun berlalu, dan kehidupan berjalan.
Sesekali mereka bertemu, terutama saat reuni sekolah. Dalam kesempatan itu,
Joko melihat Gadis yang telah tumbuh menjadi seorang remaja yang mempesona,
sementara ia merasa dirinya tetap sama, hanya sedikit lebih tinggi. Tanpa
disangka, saat SMA mereka bertemu kembali, dan kali ini di sekolah yang sama.
Meski berbeda kelas, mereka sering bertemu, terutama di kantin. Duduk bersama,
menikmati makanan di meja yang sama, meskipun selera mereka berbeda, menjadi
momen yang selalu Joko nantikan.
Perpustakaan sekolah juga menjadi tempat istimewa
mereka. Kali ini, mereka bahkan membuat janji. Sepulang sekolah, mereka sering
pergi bersama, meski hanya untuk meminjam atau mengembalikan buku. Masa-masa
remaja itu membuat Joko semakin yakin bahwa rasa sayang yang ia miliki untuk
Gadis bukanlah hal biasa. Rasa itu telah tumbuh menjadi cinta.
Suatu hari, Joko memberanikan diri untuk
menyatakan perasaannya. Saat itu, ia mengantar Gadis pulang dari sekolah.
Dengan hati-hati, ia mengungkapkan apa yang selama ini terpendam di hatinya.
Namun, jawaban Gadis tidak seperti yang ia harapkan. Gadis menolak dengan
alasan bahwa dirinya belum siap untuk terikat. Ia ingin fokus mengejar
cita-citanya. Hati Joko hancur, tetapi cintanya tetap besar. Ia yakin, suatu
hari nanti, Gadis akan membuka hatinya.
Tiga tahun kembali berlalu. Gadis melanjutkan
kuliah di Semarang, sementara Joko masuk ke perguruan tinggi kedinasan di
Jakarta. Perbedaan kota dan jurusan membuat mereka semakin jarang bertemu.
Sistem perkuliahan Joko yang ketat, termasuk jadwal libur semester yang
berbeda, membuat komunikasi di antara mereka semakin renggang.
Setelah beberapa tahun, Joko akhirnya lulus dan
mendapatkan penempatan di sebuah lembaga pemerintah di Semarang. Ia berharap
dapat bertemu Gadis lagi. Namun, harapan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Hingga suatu hari, tanpa sengaja, ia melihat Gadis di sebuah jalan. Gadis
berjalan bersama seorang lelaki, yang kemudian ia ketahui bernama Herman.
Dengan senyum yang tak kalah indah dari dulu, Gadis mengabarkan bahwa ia akan
menikah dengan Herman. Bahkan, ia menyerahkan undangan kepada Joko. Hati Joko hancur
saat itu juga.
Hari ini, di depan gedung pertemuan, Joko
memandangi pintu masuk yang terbuka. Ia tahu, di dalam sana, Gadis sedang
bersanding dengan lelaki yang ia pilih. Hatinya remuk, tetapi ia memutuskan
satu hal: ia tidak akan membiarkan air matanya menetes. Tidak di sini, tidak
saat ini. Meski hatinya hancur berkeping-keping, ia berjanji untuk tetap tegar.
Joko akhirnya memutar langkah. Ia memilih untuk
tidak masuk ke dalam gedung itu. Pernikahan Gadis adalah kebahagiaan yang tak
ingin ia ganggu dengan air mata dan kesedihan. Ia akan menyimpan semua rasa itu
untuk dirinya sendiri. Karena cinta, kadang bukan tentang memiliki, tetapi
tentang membiarkan orang yang kita cintai bahagia, meski tanpa kita.
Hari itu, Joko berjalan menjauh, meninggalkan
gedung pertemuan, dengan langkah perlahan dan hati yang masih mencintai Gadis.
Namun, ia tahu, hidup harus terus berjalan. Ia berbisik dalam hati, "Tak
kan kubiarkan air mata menetes." ( tamat)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar