Halaman

27 Desember 2024

Tak Kan Kubiarkan Air Mata Menetes


Hari ini, Joko berdiri di depan gedung pertemuan, tepat seperti yang tertulis di kartu undangan. Hatinya berat, tetapi ia tetap melangkahkan kaki ke sana. Hari ini adalah pernikahan Gadis, teman yang dikenalnya sejak kecil, tepatnya sejak mereka masuk sekolah dasar. Joko mengenang masa-masa itu. Entah apa yang dirasakannya saat itu, mungkin bukan cinta seperti yang dirasakan orang dewasa. Namun, setiap kali melihat Gadis, hatinya selalu berbunga-bunga. Kebahagiaan sederhana ketika mereka berbicara atau tertawa bersama membuat hidupnya penuh warna.

Saat sekolah dasar, Joko selalu berusaha berada di dekat Gadis. Apapun kegiatan sekolah, ia selalu mencari cara untuk bisa bersama. Namun, di luar sekolah, ia tak pernah punya keberanian untuk datang ke rumah Gadis. Mungkin jarak yang membuatnya ragu, atau mungkin rasa malu yang tak terjelaskan. Enam tahun berlalu dengan kebahagiaan kecil itu, tetapi semuanya berubah ketika mereka memilih SMP yang berbeda. Perpisahan itu menyakitkan, lebih dari yang pernah ia bayangkan.

Tiga tahun berlalu, dan kehidupan berjalan. Sesekali mereka bertemu, terutama saat reuni sekolah. Dalam kesempatan itu, Joko melihat Gadis yang telah tumbuh menjadi seorang remaja yang mempesona, sementara ia merasa dirinya tetap sama, hanya sedikit lebih tinggi. Tanpa disangka, saat SMA mereka bertemu kembali, dan kali ini di sekolah yang sama. Meski berbeda kelas, mereka sering bertemu, terutama di kantin. Duduk bersama, menikmati makanan di meja yang sama, meskipun selera mereka berbeda, menjadi momen yang selalu Joko nantikan.

Perpustakaan sekolah juga menjadi tempat istimewa mereka. Kali ini, mereka bahkan membuat janji. Sepulang sekolah, mereka sering pergi bersama, meski hanya untuk meminjam atau mengembalikan buku. Masa-masa remaja itu membuat Joko semakin yakin bahwa rasa sayang yang ia miliki untuk Gadis bukanlah hal biasa. Rasa itu telah tumbuh menjadi cinta.

Suatu hari, Joko memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Saat itu, ia mengantar Gadis pulang dari sekolah. Dengan hati-hati, ia mengungkapkan apa yang selama ini terpendam di hatinya. Namun, jawaban Gadis tidak seperti yang ia harapkan. Gadis menolak dengan alasan bahwa dirinya belum siap untuk terikat. Ia ingin fokus mengejar cita-citanya. Hati Joko hancur, tetapi cintanya tetap besar. Ia yakin, suatu hari nanti, Gadis akan membuka hatinya.

Tiga tahun kembali berlalu. Gadis melanjutkan kuliah di Semarang, sementara Joko masuk ke perguruan tinggi kedinasan di Jakarta. Perbedaan kota dan jurusan membuat mereka semakin jarang bertemu. Sistem perkuliahan Joko yang ketat, termasuk jadwal libur semester yang berbeda, membuat komunikasi di antara mereka semakin renggang.

Setelah beberapa tahun, Joko akhirnya lulus dan mendapatkan penempatan di sebuah lembaga pemerintah di Semarang. Ia berharap dapat bertemu Gadis lagi. Namun, harapan itu tidak semudah yang ia bayangkan. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, ia melihat Gadis di sebuah jalan. Gadis berjalan bersama seorang lelaki, yang kemudian ia ketahui bernama Herman. Dengan senyum yang tak kalah indah dari dulu, Gadis mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan Herman. Bahkan, ia menyerahkan undangan kepada Joko. Hati Joko hancur saat itu juga.

Hari ini, di depan gedung pertemuan, Joko memandangi pintu masuk yang terbuka. Ia tahu, di dalam sana, Gadis sedang bersanding dengan lelaki yang ia pilih. Hatinya remuk, tetapi ia memutuskan satu hal: ia tidak akan membiarkan air matanya menetes. Tidak di sini, tidak saat ini. Meski hatinya hancur berkeping-keping, ia berjanji untuk tetap tegar.

Joko akhirnya memutar langkah. Ia memilih untuk tidak masuk ke dalam gedung itu. Pernikahan Gadis adalah kebahagiaan yang tak ingin ia ganggu dengan air mata dan kesedihan. Ia akan menyimpan semua rasa itu untuk dirinya sendiri. Karena cinta, kadang bukan tentang memiliki, tetapi tentang membiarkan orang yang kita cintai bahagia, meski tanpa kita.

Hari itu, Joko berjalan menjauh, meninggalkan gedung pertemuan, dengan langkah perlahan dan hati yang masih mencintai Gadis. Namun, ia tahu, hidup harus terus berjalan. Ia berbisik dalam hati, "Tak kan kubiarkan air mata menetes." ( tamat)

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar