Saat ini kalau melihat foto bus
PPD tingkat , jadi teringat peristiwa yang saya alami beberapa dasawarsa yang
lalu. Saat itu Rabu malam di tahun 1993, tapi lupa tanggal dan bulannya. Malam itu
sesaat setelah sholat Isya, saya menerima tugas dari store manager, Pak Riscal untuk
mengambil sesuatu, mungkin es batu yang berbentuk kristal atau pun ayam potong
yang sudah diproses di store Pasar Baru.
Kali pertama saya mengendarai
motor di malam hari dan saat hujan turun cukup deras pula. Awalnya perjalanan
dari Plaza Indonesia menelusuri jalan M.H Thamrin biasa-biasa saja. Jalan cukup
licin oleh air hujan. lalu-lintas tak padat, cahaya lampu jalanan pun cukup terang karena bertebaran
sepanjang jalan, malam terkesan agak lengang. Perjalanan sepeda motor berkepala kuda terasa tak ada masalah melaju hingga mencapai bundaran
Indosat atau patung kuda Arjuna Tanding .
Tapi Ketika sampai di jalan Merdeka Barat tepatnya di depan museum Nasional
atau sering disebut juga museum Gajah, sebuah mobil sedan , kalau tak salah
ingat berwarna putih berputar arah dengan sangat mendadak di depan sepeda motor
yang saya kendarai. Saya kaget, secara spontan saya menginjak pedal rem. Karena
saya cuma gunakan rem belakang, maka akibatnya
cukup fatal. Roda belakang terhenti, sementara roda depan seakan terus berputar,
kondisi jalanan licin oleh air hujan. Motor pun sempat terseok. Tangan saya
yang seharusnya menggemgam dengan erat ke stang sepeda motor, terlepas karena kaget. Saya pun terjatuh, mungkin tepatnya tercecer di
jalan Medan Merdeka Barat itu. Parahnya sepeda
motor berkepala kuda masih tetap berjalan ke arah kanan. Saya berusaha untuk
segera bangun dan mengejar. . Namun belum sempat
kaki saya melangkah, saya harus mengurungkan niat. Bus PPD bertingkat
dengan No.70 trayek Blok M – Kota dengan cukup cepat melaju dan menghantam
bagian belakang sepeda motor berkepala kuda itu. Masih beruntung langkah saya
terhenti sehingga saya tak sempat tersambar juga., Alhamdulillah….
Sekuat tenaga saya
mengayunkan langkah kaki sambil kedua tangan terangkat dan telapak
tangan terbuka, meminta supir bus menghentikan laju kendaraannya. Saya dibantu
beberapa orang SATPAM dari pos jaga museum nasional berupaya membangunkan sepeda
motor itu. Mesin sepeda motor itu mati, saya berupaya menghidupkan secara
manual, Alhamdulillah sekali lagi, mesin hidup. Saya cek beberapa bagian dari
sepeda motor, setelah saya yakin sepertinya baik-baik saja. Saya pun meminta supir bus itu untuk
bergerak meninggalkan tempat.
Dibantu beberapa SATPAM yang tadi menolong , saya menepikan sepeda motor ke pos jaga. Saya diberikan segelas air teh hangat oleh seorang SATPAM lain yang sejak tadi tetap berada di pos jaga. Beberapa pertanyaan dilontarkan secara bergantian oleh beberapa SATPAM. Setelah mereka yakin saya tidak mengalami hal serius, maka mereka pun mengizinkan saya meninggalkan tempat. Saya pun menyampaikan ucapan terima kasih. Kemudian melanjutkan tugas, menembus derasnya hujan dan hawa dingin di bawah cahaya lampu penerangan jalan menuju store Pasar Baru. (Wy).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar