Halaman

8 November 2022

Tumpanganku Tersambar Bus Tingkat



Saat ini kalau melihat foto bus PPD tingkat , jadi teringat peristiwa yang saya alami beberapa dasawarsa yang lalu. Saat itu Rabu malam di tahun 1993, tapi lupa tanggal dan bulannya. Malam itu sesaat setelah sholat Isya, saya menerima tugas dari store manager, Pak Riscal untuk mengambil sesuatu, mungkin es batu yang berbentuk kristal atau pun ayam potong yang sudah diproses di store Pasar Baru.

Kali pertama saya mengendarai motor di malam hari dan saat hujan turun cukup deras pula. Awalnya perjalanan dari Plaza Indonesia menelusuri jalan M.H Thamrin biasa-biasa saja. Jalan cukup licin oleh air hujan. lalu-lintas tak padat, cahaya lampu jalanan  pun cukup terang karena bertebaran sepanjang jalan, malam terkesan agak lengang. Perjalanan  sepeda motor berkepala kuda terasa tak  ada masalah melaju hingga mencapai bundaran Indosat atau patung kuda Arjuna  Tanding . Tapi Ketika sampai di jalan Merdeka Barat tepatnya di depan museum Nasional atau sering disebut juga museum Gajah, sebuah mobil sedan , kalau tak salah ingat berwarna putih berputar arah dengan sangat mendadak di depan sepeda motor yang saya kendarai. Saya kaget, secara spontan saya menginjak pedal rem. Karena saya cuma  gunakan rem belakang, maka akibatnya cukup fatal. Roda belakang terhenti, sementara roda depan seakan terus berputar, kondisi jalanan licin oleh air hujan. Motor pun sempat terseok. Tangan saya yang seharusnya menggemgam dengan erat ke stang sepeda motor,  terlepas karena kaget. Saya pun terjatuh, mungkin tepatnya tercecer di jalan Medan Merdeka Barat itu. Parahnya  sepeda motor berkepala kuda masih tetap berjalan ke arah kanan. Saya berusaha untuk segera bangun dan mengejar. . Namun belum sempat kaki saya melangkah, saya harus mengurungkan niat. Bus PPD bertingkat dengan No.70 trayek Blok M – Kota dengan cukup cepat melaju dan menghantam bagian belakang sepeda motor berkepala kuda itu. Masih beruntung langkah saya terhenti sehingga saya tak sempat tersambar juga., Alhamdulillah….

Sekuat tenaga saya mengayunkan langkah kaki sambil kedua tangan terangkat dan telapak tangan terbuka, meminta supir bus menghentikan laju kendaraannya. Saya dibantu beberapa orang SATPAM dari pos jaga museum nasional berupaya membangunkan sepeda motor itu. Mesin sepeda motor itu mati, saya berupaya menghidupkan secara manual, Alhamdulillah sekali lagi, mesin hidup. Saya cek beberapa bagian dari sepeda motor, setelah saya yakin sepertinya baik-baik saja. Saya pun meminta supir bus itu untuk bergerak meninggalkan tempat.

Dibantu beberapa SATPAM yang tadi menolong , saya menepikan sepeda motor ke pos jaga. Saya diberikan segelas air teh hangat oleh seorang SATPAM lain yang sejak tadi  tetap berada di pos jaga. Beberapa pertanyaan dilontarkan secara bergantian oleh beberapa SATPAM. Setelah mereka yakin saya tidak mengalami hal serius, maka mereka pun mengizinkan saya meninggalkan tempat. Saya pun menyampaikan ucapan terima kasih. Kemudian melanjutkan tugas, menembus derasnya  hujan dan hawa dingin  di bawah cahaya lampu penerangan jalan menuju store Pasar Baru. (Wy).


Inilah sepeda motor berkepala kuda itu




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar