Halaman

11 Maret 2020

Menunggu Waktu yang Semakin Sempit

Le Kesi menoleh ke belakang bertepatan dengan saat aku memotret ketenangan dalam gerbong kereta api

Berbabagai pikiran berkecamuk dalam kepala. Bermacam perasaan pun mengunjang –gunjang hati. Kenapa belum datang juga, padahal waktu yang tersedia semakin sempit. Tinggal lima menit lagi...Tetapi bayangannya pun belum nampak. Beberapa kali sudah kuhubungi via WA dan HP, tapi tak dibalas apalagi diangkat teleponnya. Ugh.....perasaan ini semakin tak menentu.

“Pak coba dihubungi lagi, suruh lari aja.!” Begitu usul salah seorang security.

“ Nggak mungkin Pak, “ kataku. Beliau sudah tidak muda lagi.

“Kalau begitu , saya ambilkan kursi roda,”kata security menawarkan bantuan.

“Itu dia , Pak,” security menunjuk ke depan setengah berteriak. Aku menoleh tertuju ke arah yang ditunjukan. Betul, dia Indra , suami Tami , menantu le Kesi melambai-lambaikan tangan. Aku pun langsung berlari sambil mendorong kursi roda yang barusan begitu saja kuterima dari security yang lain.

“ Ayo le !”, kataku mengajak Le Kesi untuk segera naik ke kursi roda. Aku sempat melihat Indra menarik bagian belakang tas yang dikenakan Farel, anak laki-lakinya. Anak seumuran anak SD itu pun terhenti secara mendadak dari larinya, kemudian berbalik arah.

“Ayu...mana?” tanyaku entah kepada siapa, sambil berlari dan mendorong kursi roda yang telah diduduki Le kesi. Sesaat kemudian security yang lainnya lagi mengambil alih kursi roda untuk di dorong. Bersamaan Ayu, ada di sampingku yang langsung aku sambar tangannya dan kutarik mengajaknya berlari ke arah tangga untuk naik ke lantai dua. Aku tak sempat berpikir dari arah mana Ayu tadi datang.

Aku,  Ayu yang kutarik  dan Le Kesi yang duduk di kursi roda di dorong oleh seorang security, sama-sama berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah tangga , tetapi salah satu security yang rupanya ikut berlari mengarahkan ke lift. Aku langsung masuk ke ruang lift, begitu pintunya terbuka. Aku tersengal-sengal, aku mencoba mengela napas beberapa kali mencoba  memperbaiki deru napasku.

Tak perlu lama, aku dan yang lainnya sudah tiba di lantai dua dan langsung menuju pintu kereta api. Begitu aku dan rombongan tiba di dalam kereta api, rombongan yang sudah lebih dulu sampai di dalamnya langsung mengela napas lega seraya bersyukur.

“Alhamdulillah, terima kasih ya , Pak” kataku kepada seorang security yang ada di dalam kereta api , karena beliau sudah membantu menenangkan ibuku, Pakde Yatmo, istri dan anak-anakku dan yang lainnya.

“Ya, sama-sama Pak,” katanya.

Sesaat kemudian seluruh pintu kereta api tertutup dan kereta api pun mulai bergerak meninggalkan stasiun Gambir di sore itu, sekitar pukul 17.10 WIB hari Jumat, 20 Desember 2019 menuju stasiun Kutoajo salah satunya, di sana aku dan rombongan akan turun dan selanjutnya menuju ke Prembun. (Wy)

 Anak bungsuku, Dyah Rahmahsari Ananto sangat menikmati perjalan dengan kereta api menuju kampung halaman mbah utinya, Prembun, Kebumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar