The Beatles
Peristiwa Pembakaran Album The Beatles
Pada
31 Juli 1966, terjadi pembakaran album The Beatles besar-besaran di Birmingham.
Aksi pembakaran tersebut dipicu oleh pernyataan kontroversial John Lennon dalam
sebuah wawancara dengan London Evening Standard pada 4 Maret 1966 yang berkata:
"Agama
Kristen akan berlalu. Agama itu akan mengecil dan hilang. Saya tidak perlu
berargumen tentang hal itu. Saya benar dan akan terbukti benar. Kami lebih
populer dari Yesus sekarang. Saya tidak tahu yan gmana yang akan tumbang lebih
dahulu - rock n roll atau Kristen. Yesus masih oke, tetapi murid-muridnya lah
yang keras kepala dan orang biasa saja. Perubahan-Perubahan yang mereka buat
yang telah merusak semuanya."
Pernyataan
tersebut, yang merupakan bagian dari wawancara sepanjang dua halaman tersebut,
tidak dihiraukan di Inggris pada saat itu.
John
berkata bahwa The Beatles lebih populer dari Yesus, yang berarti bahwa agama
Kristen (dan agama lainnya secara umum) menjadi lebih lemah dan tidak populer
sampai grup rock seperti The Beatles menjadi lebih populer dari pada mereka
pada saat itu. Dia mengeluarkan pernyataan itu sebagai contoh atas maksudnya,
bahwa agama Kristen tidak populer di antara anak muda, dan dia tidak bermaksud
membandingkan The Beatles dengan Yesus atau bahwa dirinya lebih hebat dari
Yesus. Tetapi ketika pernyataan di atas dicetak di sebuah majalah remaja di
Amerika Serikat bernama "Datebook" beberapa bulan kemudian, kehebohan
besar pecah.
Stasiun
radio AS melarang diputarnya lagu The Beatles. Beberapa bahkan membakar foto
dan album Beatles, dan terlihat anak-anak muda menginjak-injak album Beatles,
memegang foto Beatles yang sedang terbakar sambil tersenyum dan memegang
spanduk bertuliskan "Yesus mati untuk Anda John Lennon" dan
"John Lennon itu Setan!" (Kami masih sering mendengar orang berkata
bahwa The Beatles itu "antikristus" sampai saat ini, tetapi tampaknya
Tuhan memihak kepada The Beatles, karena salah satu stasiun radio yang
mengorganisir pembakaran album tersebut tersambar petir keesokan paginya, yang
menghancurkan peralatan stasiun tersebut dan dikabarkan turut menghantam
direktur pemberitaan stasiun tersebut sampai tak sadarkan diri!)
Seorang
anggota Ku Klux Klan berkata bahwa The Beatles kemungkinan telah "dicuci otaknya
oleh para komunis." Dengan tur AS The Beatles hanya tinggal beberapa hari
lagi, manajer band tersebut, Brian Epstein, berkata kepada American Press bahwa
pernyataan John sangat disalah artikan. Tetapi masyarakat yang membakar album
The Beatles tidak mengerti, atau tidak mau mengerti.
Setelah
mereka tiba di AS, The Beatles mengadakan konferendi pers. Untuk pertama
kalinya tidak ada pertanyaan tentang gaya rambut mereka, atau kapan mereka akan
menikah. John dan anggota The Beatles lainnya duduk bersama dan menjawab
pertanyaan seputar pernyataan "Yesus" John, dan mencoba
menjelaskannya ke wartawan AS.
Masyarakat
yang marah masih tidak mau mengerti (yang terbukti dengan masyarakat agamis
yang membenci John dan mengatakan pernyataannya adalah "penghujatan").
Tetapi, saat surat kabar mencetak bahwa John Lennon telah meminta maaf (yang
memang dia lakukan, secara tidak langsung), masyarakat mulai tenang. Tetapi
kehebohan tersebut berdampak besar terhadap menurunnya minat di tur The
Beatles.
Disadur dari plasa MSN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar