Le Kesi menoleh ke belakang bertepatan dengan saat aku memotret ketenangan dalam gerbong kereta api
Berbabagai pikiran berkecamuk
dalam kepala. Bermacam perasaan pun mengunjang –gunjang hati. Kenapa belum
datang juga, padahal waktu yang tersedia semakin sempit. Tinggal lima menit
lagi...Tetapi bayangannya pun belum nampak. Beberapa kali sudah kuhubungi via
WA dan HP, tapi tak dibalas apalagi diangkat teleponnya. Ugh.....perasaan ini
semakin tak menentu.
“Pak coba dihubungi lagi, suruh
lari aja.!” Begitu usul salah seorang security.
“ Nggak mungkin Pak, “ kataku.
Beliau sudah tidak muda lagi.
“Kalau begitu , saya ambilkan
kursi roda,”kata security menawarkan bantuan.
“Itu dia , Pak,” security
menunjuk ke depan setengah berteriak. Aku menoleh tertuju ke arah yang
ditunjukan. Betul, dia Indra , suami Tami , menantu le Kesi melambai-lambaikan
tangan. Aku pun langsung berlari sambil mendorong kursi roda yang barusan
begitu saja kuterima dari security yang lain.
“ Ayo le !”, kataku mengajak Le
Kesi untuk segera naik ke kursi roda. Aku sempat melihat Indra menarik bagian
belakang tas yang dikenakan Farel, anak laki-lakinya. Anak seumuran anak SD itu
pun terhenti secara mendadak dari larinya, kemudian berbalik arah.
“Ayu...mana?” tanyaku entah
kepada siapa, sambil berlari dan mendorong kursi roda yang telah diduduki Le
kesi. Sesaat kemudian security yang lainnya lagi mengambil alih kursi roda
untuk di dorong. Bersamaan Ayu, ada di sampingku yang langsung aku sambar
tangannya dan kutarik mengajaknya berlari ke arah tangga untuk naik ke lantai
dua. Aku tak sempat berpikir dari arah mana Ayu tadi datang.
Aku, Ayu yang kutarik dan Le Kesi yang duduk di kursi roda di
dorong oleh seorang security, sama-sama berlari sekencang-kencangnya menuju ke
arah tangga , tetapi salah satu security yang rupanya ikut berlari mengarahkan
ke lift. Aku langsung masuk ke ruang lift, begitu pintunya terbuka. Aku
tersengal-sengal, aku mencoba mengela napas beberapa kali mencoba memperbaiki deru napasku.
Tak perlu lama, aku dan yang
lainnya sudah tiba di lantai dua dan langsung menuju pintu kereta api. Begitu
aku dan rombongan tiba di dalam kereta api, rombongan yang sudah lebih dulu
sampai di dalamnya langsung mengela napas lega seraya bersyukur.
“Alhamdulillah, terima kasih ya ,
Pak” kataku kepada seorang security yang ada di dalam kereta api , karena
beliau sudah membantu menenangkan ibuku, Pakde Yatmo, istri dan anak-anakku dan
yang lainnya.
“Ya, sama-sama Pak,” katanya.
Sesaat kemudian seluruh pintu
kereta api tertutup dan kereta api pun mulai bergerak meninggalkan stasiun Gambir di sore itu, sekitar pukul 17.10 WIB hari Jumat, 20 Desember 2019 menuju stasiun Kutoajo
salah satunya, di sana aku dan rombongan akan turun dan selanjutnya menuju ke
Prembun. (Wy)
Anak bungsuku, Dyah Rahmahsari Ananto sangat menikmati perjalan dengan kereta api menuju kampung halaman mbah utinya, Prembun, Kebumen.






